Jakarta, Properti Indonesia – Dua perusahaan properti asal China, Fantasia Holdings dan Sinic Holdings diduga juga mengalami gagal bayar utang seperti halnya yang terjadi dengan perusahaan besar Evergrande yang masih berlangsung hingga sekarang.
Dilansir dari laman BBC, Senin (11/10), Sinic Holdings menjadi pengembang properti China terbaru yang diturunkan peringkatnya oleh lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings. Perusahaan tersebut mengalami keterlambatan pembayaran bunga dan ketidakpastian atas pembayaran obligasi sebesar USD246 juta yang akan jatuh tempo pada akhir bulan Oktober 2021.
Bos Sinic yakni Zhang Yuanlin yang berbsis di Shanghai dikabarkan kehilangan lebih dari satu miliar dolar dalam aksi jual pasar terkait dengan kekhawatiran Evergrande, pada September 2021. Kekayaan pribadi Zhang Yuanlin turun dari USD 1,3 miliar menjadi USD 250,7 juta pada 20 September 2021. Perusahaanya terpaksa harus menangguhkan perdagangan saham di bursa Hong Kong dan menyusul penurunan nilai hampir 90 persen.
Kemudian pada Senin (4/10) lalu, pengembang properti Fantasia Holdings yang berbasis di Shenzhen juga mengalami gagal bayar kembali obligasi sebesar USD 205,7 juta. Hal tersebut membuat pasar obligasi denominasi dolar pembangun rumah di China turun hampir 50 persen.
Laporan keuangan perusahaan pada paruh pertama tahun 2021, total kewajiban perusahaan sekarang yakni 82,9 miliar yuan atau USD 12,8 miliar. Sebelumnya Fitch Ratings juga telah menurunkan peringkat Fantasia Holdings dari “B” menjadi “CCC”, yang berarti perusahaan tersebut menghadapi risiko kredit yang signifikan.
Kekhawatiran tentang solvabilitas Sinic Holdings dan Fantasia Holdings muncuk karena Evergrande Group telah berusaha untuk membayar bunga dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan perusahaan properti pesaing di Hong Kong, Hopson Development juga berniat membeli 51 persen saham di Evergrande Real Estate seharga USD 5 miliar.