Tinggalkan Konsep Lama, Paradise Indonesia Ubah Mal Jadi Destinasi Rekreasi

Tinggalkan Konsep Lama, Paradise Indonesia Ubah Mal Jadi Destinasi Rekreasi
Acara Media Gathering di fX Sudirman, Jakarta, Senin (11/5/2026). (Foto: Mita D.S / Properti Indonesia)

Jakarta, Properti Indonesia - Di tengah kecenderungan pengembang properti yang bersikap konservatif akibat dinamika ekonomi global, PT Indonesian Paradise Property Tbk (Paradise Indonesia) justru mengambil langkah ekspansif. Perusahaan melakukan reorientasi konsep pusat perbelanjaan dari sekadar tempat belanja menjadi destinasi rekreasi (leisure destination) guna memastikan relevansi aset dalam jangka panjang. 

Strategi ini terlihat pada proyek pusat perbelanjaan 23 Semarang yang dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2026 mendatang. CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan bahwa perusahaan sempat mengkaji ulang luas area sewa (net leasable area) proyek tersebut di tengah masa pandemic lalu. Meski pasar saat itu cenderung khawatir, hasil studi internal justru merekomendasikan perluasan area.

"Setelah kita studi terus-menerus, malah keluar satu rekomendasi kepada BOD. Ternyata kita butuhnya 48.000 meter persegi. Mereka kaget, karena saat orang lain cenderung konservatif, kita justru diminta mengisi area seluas itu," ujar Anthony dalam acara Media Gathering di fX Sudirman, Jakarta, Senin (11/5/2026). Strategi berani ini terbukti efektif dengan tingkat keterisian lahan sewa yang kini telah melampaui 80 persen menjelang pembukaan.

Penampakan Mall 23 Semarang | Foto: X (@monyedjinak)

Anthony menambahkan, kunci dari mal masa depan adalah pengalaman pengunjung, bukan sekadar transaksi retail. Oleh karena itu, porsi penyewa di sektor makanan dan minuman (F&B) serta hiburan ditingkatkan secara signifikan. Konsep ini serupa dengan keberhasilan Skyward di 23 Paskal Bandung, di mana pengunjung pada awalnya datang untuk berekreasi namun pada akhirnya turut melakukan aktivitas konsumsi.

Di sisi lain, Direktur INPP, Surina, menekankan bahwa ekspansi Paradise Indonesia selalu dibarengi dengan manajemen risiko yang terukur. Salah satu keunggulan struktur keuangan perusahaan saat ini adalah ketiadaan utang dalam mata uang dollar AS. "Keuntungannya, kita tidak ada hutang bank maupun hutang lainnya dalam US dollar, sehingga secara kurs tidak terlalu terdampak," kata Surina.

Meski demikian, perusahaan tetap mewaspadai kenaikan harga bahan baku konstruksi yang menjadi tantangan umum di industri real estat. Sebagai langkah antisipasi, Paradise Indonesia fokus mengoptimalkan aset-aset yang sudah ada dan menunjukkan performa baik, seperti hotel Harris fX Sudirman di Jakarta yang kini tengah menjalani penambahan kapasitas kamar.

Selain proyek di Semarang, Paradise Indonesia juga mulai melirik potensi di luar Jawa seperti Batam, termasuk keberhasilan penjualan unit properti di Balikpapan. Namun, sesuai prinsip akuntansi yang ketat, pendapatan dari proyek tersebut baru akan diakui saat serah terima unit pada tahun 2028 atau 2029 mendatang.

Tags
#mall #Pusat Belanja #Developer #Berita Properti #Indonesian Paradise Property #INPP #Paradise Indonesia Group