Jakarta, Properti Indonesia - Performa industri hotel di wilayah Jakarta, Bali dan Surabaya hingga kuartal kedua tahun 2023 mulai bergerak postif. Hal ini seiring dengan pulihnya perekonomian dari pandemi Covid-19, sehingga perfoma hotel dapat kembali ke kondisi yang ideal.
"Selama pandemi hotel paling terdampak sangat berat. Namun, seiring waktu tingkat hunian tahun 2019-2020 yang rendah kini berangsur-angsur pulih. Pada tahun 2022 mulai kelihatan kembali normal, dan di kuartal I dan kuartal II 2023 sudah kembali ke angka normal," ujar Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam media briefing, Kamis (20/7).
Berdasarkan laporan Colliers, saat ini tingkat hunian atau okupansi hotel secara menyeluruh berada di angka normal atau tetap di 62 persen. Dengan rincian sekitar 60 persen di Jakarta dan Bali, sementara di Surabaya masih sekitar 54 persen.
Dari sisi tarif kamar yang ditransaksikan atau Average Daily Rate (ADR), tarif hotel di Bali sudah melebihi di waktu sebelum pandemi yaitu USD125,84. Di Jakarta juga sudah mulai naik tetapi belum mencapai tingkat sebelum pandemi yaitu USD63,39, dan di Surabaya mencapai USD41,61.
"Selama Mei 2023 ini mencapai siklus yang normal. Kemudian dari sisi ADR mendekati tarif yang normal, ini bisa menjadi indikasi bahwa pasar hotel ini akan tumbuh lebih baik terutama terkait pilpres dan pemilu tahun depan yang akan menjadi pendorong, karena kegiatan politik biasanya di hotel," jelas Ferry.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi performa hotel membaik, adalah adanya libur lebaran di tahun ini dengan banyaknya masyarakat yang berlibur ke luar kota atau luar negeri. Serta kegiatan MICE sudah bisa dilaksanakan dengan kapasitas 100 persen. Diharapkan kegiatan MICE ini dapat membantu atau mendongkrak okupansi hotel.
"Hotel di Bali antara tahun 2019 dan 2023 mulai sama, kembali normal, dan ini sebenarnya sejalan dengan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara. Jumlah wisatawan yang datang dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah mendekati angka normal di tahun ini sehinga membuat hotel pede menaikkan tarif kamar," tutur Ferry.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Bali juga memberikan aturan baru berupa menarik retribusi sebesar Rp150.000 bagi turis asing yang berkunjung ke Bali, dan akan diberlakukan pada tahun mendatang. Meski ada kebijakan baru tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan maupun okupansi hotel di Bali.
"Menurut kami kebijakan tersebut tidak akan berpengaruh terhadap jumlah pengunjung ke Bali. Karena saat ini pun tengah digodok, sebetulnya peruntukan retribusi tersebut akan kembali kepada kenikmatan yang bisa dinikmati oleh para wisatawan yang nantinya datang ke Bali," ungkap Head of Hospitality Services Colliers Indonesia, Satria Wei, menjawab pertanyaan Properti Indonesia.
Sementara untuk hotel di Surabaya juga hampir mirip dengan Jakarta. Dimana hotel-hotel di Surabaya biasanya digunakan untuk kegiatan bisnis, kegiatan MICE juga sudah mulai ramai, serta tamu luar neger berdatangan. Meskipun belum bisa pulih sepenuhnya, outlook perhotelan di Surabaya tetap positif.