Labamu Perkenalkan Sistem MRP Untuk Industri Furnitur Pada IFEX 2026

Labamu Perkenalkan Sistem MRP Untuk Industri Furnitur Pada IFEX 2026

Tangerang, Properti Indonesia — Platform digital Labamu memperkenalkan solusi Manufacturing Resource Planning (MRP) yang dikembangkan khusus untuk industri furnitur Indonesia dalam sesi Smart Manufacturing Optimization pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. 

Solusi ini diperkenalkan sebagai upaya menjawab berbagai tantangan operasional yang masih dihadapi pelaku industri mebel dan kerajinan nasional, terutama dalam pengelolaan produksi, inventori, dan koordinasi rantai pasok.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (2024), industri furnitur Indonesia didominasi oleh usaha kecil dan menengah. Tercatat sekitar 291.600 unit industri kecil dan menengah furnitur yang menyerap sekitar 819.000 tenaga kerja di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, peluang pasar global masih sangat besar. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) pada 2024 mencatat nilai pasar ekspor furnitur dunia diperkirakan mencapai sekitar USD 300 miliar. Namun kontribusi ekspor furnitur Indonesia masih sekitar USD 2,5 miliar, menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih luas bagi industri nasional.

Data Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) pada 2023 juga menunjukkan bahwa ekspor furnitur Indonesia mencapai sekitar USD 2,8 miliar dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat. Adapun pasar utama meliputi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Permintaan juga mulai berkembang di kawasan Timur Tengah dan Australia.

Digitalisasi dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing industri furnitur Indonesia di tengah persaingan pasar global. Melalui kolaborasi dengan HIMKI, Labamu mendorong para pelaku usaha untuk mulai mengadopsi sistem operasional digital yang terintegrasi.

“Industri furnitur Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar global, dan digitalisasi menjadi fondasi penting untuk mencapainya. Dengan sistem produksi dan manajemen yang lebih terintegrasi, pelaku usaha dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas, serta merespons permintaan pasar dengan lebih cepat,” ujar Emmanuelle Van De Geer, CEO Labamu.

Penerapan sistem digital terintegrasi diharapkan mampu membuat proses produksi menjadi lebih efisien, pengelolaan data usaha lebih tertata, serta membantu pelaku industri memantau berbagai tahapan bisnis secara lebih terstruktur. “Dengan operasional yang semakin optimal, pelaku usaha furnitur dapat lebih fokus pada pengembangan inovasi produk sekaligus memperluas ekspansi pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional,” imbuh Emmanuelle.

Seiring meningkatnya permintaan global dan pertumbuhan penjualan melalui kanal digital, banyak produsen furnitur menghadapi tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi. Salah satu kendala utama adalah masih dominannya proses manual dalam pengelolaan bahan baku, produksi, dan stok.

Rey Sihotang selaku Direktur Legal & Compliance Labamu menyampaikan, “sekitar 60–70 persen produsen furnitur berbasis material alami seperti kayu dan rotan masih mengandalkan pencatatan manual untuk pelacakan operasional. Kondisi ini membuat visibilitas produksi menjadi terbatas dan meningkatkan risiko kesalahan dalam pengelolaan pesanan maupun bahan baku”.

Menjawab tantangan tersebut, Labamu mengembangkan ekosistem Manufacturing Resource Planning (MRP) yang dirancang untuk membantu produsen mengelola proses bisnis secara lebih terintegrasi. Silvya Winsen Head of Business Development Labamu menegaskan, “platform ini menghubungkan berbagai fungsi operasional, mulai dari pengelolaan pesanan, perencanaan produksi, manajemen bahan baku, inventori, hingga logistik dan layanan keuangan dalam satu sistem terpadu”.

Silvya menambahkan jika pengembangan sistem tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Sepanjang 2025, Labamu bersama HIMKI melakukan berbagai dialog dan kegiatan roadshow digitalisasi di sentra furnitur seperti Bali, Yogyakarta, Jepara, dan Cirebon untuk memahami tantangan operasional yang dihadapi pelaku usaha.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Labamu memperoleh berbagai masukan terkait kebutuhan industri, mulai dari penghitungan kebutuhan material, pencatatan produksi, hingga koordinasi antara gudang, produksi, dan pengiriman. Berdasarkan insight tersebut, Labamu mengembangkan sistem yang memungkinkan pelaku usaha memantau proses produksi secara lebih terstruktur, menghitung kebutuhan material secara lebih akurat, serta mengetahui biaya produksi secara lebih transparan.

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas kapasitas produksi tanpa menambah kompleksitas manajemen. Selain sistem produksi, Labamu juga menyediakan solusi digital untuk pengelolaan penjualan, termasuk pembuatan toko online yang memungkinkan produsen furnitur memperluas akses pasar dan mengelola pesanan secara digital.

“Lewat sesi Smart Manufacturing Optimization di IFEX 2026, Labamu berharap dapat mendorong percepatan digitalisasi industri furnitur Indonesia sekaligus membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing di pasar global”, ungkap Rey Sihotang.

Tags
#Berita Properti #furnitur #Platform digital #Labamu