Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan real estate asal China, Kaisa Group dikabarkan mengalami gagal bayar kepada investor. Kondisi Kaisa Group mengikuti jejak perusahaan pesaingnya yakni Evergrande Group, yang juga mengalami kesulitan membayar utang yang mencapai lebih dari USD 300 miliar.
Dilansir dari laman BBC (9/11), keuangan Kaisa disebutkan mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya seiring sektor properti di China yang masih menantang. Krisis di Evergrande telah memicu kekhawatiran bahwa potensi runtuhnya perusahaan raksasa tersebut dapat mengirim gelombang kejut melalui pasar global. Sementara itu, Evergrande telah menjual beberapa aset di Inggris karena pembayaran yang telah jatuh tempo pada Sabtu (6/11).
Perdagangan saham Kaisa Group dan tiga unitnya telah dihentikan di Hong Kong pada Jumat (5/11) lalu, setelah salah satu bisnisnya melewatkan pembayaran kepada investor. Sebelum penangguhan, Kaisa memiliki nilai pasar sekitar USD 1 miliar, dan sahamnya mencapai rekor terendah pada Kamis (4/11). Kemudian peringkatnya diturunkan oleh lembaga pemeringkat, yang membuat perusahaan ini lebih sulit untuk meminjam uang.
Adapun pengembang-pengembang di sektor properti China yang turut mengalami gagal bayar seperti Evergrande. Total utang gabungan perusahaan ini diperkirakan lebih dari USD 5 triliun, menurut raksasa perbankan Jepang Nomura. Jumlah tersebut hampir sebesar ekonomi di Jepang.
Perusahaan tersebut diantaranya adalah Fantasia, Sinic, dan China Properties Group yang mengalami gagal bayar utang dalam beberapa bulan terakhir sementara Kaisa telah menjadi pengembang terbaru yang melewatkan pembayaran.
Investor dan ekonomi khawatir bahwa masalah keuangan yang dialami para pengembang ini akan membuat konsumen merasa enggan untuk membeli properti. Sementara properti menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi.