Jakarta, Properti Indonesia - Produsen furnitur dan interior PT Vivere Multi Sekurasi (VIVERE Group) menggelar inisiatif Designed for Life (DFL) Conference 2026 sebagai upaya mendorong transformasi cara pandang pelaku industri terhadap ruang kerja (workspace).
Latar belakang diselenggarakannya konferensi tersebut karena menurut pandangan perusahaan, ruang kerja saat ini masih sering ditempatkan sebagai komponen beban biaya operasional (cost centre), padahal berpotensi menjadi aset investasi strategis bagi pengembangan sumber daya manusia dan keberlanjutan bisnis.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui helatan DFL Conference 2026 bertajuk “The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology” yang berlangsung di di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/10/2026) lalu.
Forum ini mempertemukan antara pemilik bisnis, pengelola gedung, desainer interior, konsultan properti, hingga penyedia teknologi untuk menyelaraskan arah pengembangan ruang kerja nasional.
President Director VIVERE Group, William Simiadi, menyampaikan bahwa DFL dirancang bukan sekadar ajang seremonial, melainkan wadah kolaborasi berkelanjutan untuk menjembatani kesenjangan pemahaman di antara para pemangku kepentingan industri.
"DFL bukan sekadar event. Kami ingin membangun sebuah komunitas sebagai wadah yang mempertemukan berbagai perspektif dari industri dan menciptakan komunikasi yang lebih luas mengenai workspace,” ujar William Simiadi dalam keterangannya, Kamis (8/10) lalu. Menurut William, diskusi mengenai ruang kerja perlu melibat elemen bisnis, pengguna, hingga pengembang teknologi secara terintegrasi agar tidak berjalan terpisah.

Konferensi pers mengenai Designed for Life (DFL) Conference 2026
Kebutuhan akan penyelarasan persepsi ini turut diamini oleh para praktisi industri. Design Director Studio Yruna, Fayruzka Juanita, mengungkapkan kendala umum dalam perencanaan ruang kerja terletak pada keterlambatan dimulainya ruang diskusi. "Perancangan kantor kerap diawali dari aspek teknis seperti tata letak, estetika, dan anggaran, tanpa mendudukkan tujuan bisnis jangka panjang serta pola kerja organisasi sebagai pijakan utama," sebutnya.
Pandangan senada disampaikan Managing Director DesignPartners Indonesia (DPI), Naila Djatnika. Dirinya menekankan bahwa tolok ukur efektivitas ruang kerja seharusnya tidak berhenti pada fisik bangunan semata, melainkan sejauh mana fasilitas tersebut mampu menopang produktivitas, daya dukung kolaborasi, serta kesejahteraan pekerja yang berujung pada kinerja finansial perusahaan.
Dari sudut pandang pengelolaan sumber daya manusia, Head of People & Culture IDN, Audya Medina, menambahkan bahwa nilai riil dari sebuah ruang kerja tercermin pada kelancaran operasional sehari-hari. Ruang kerja yang ideal, sebut Audya, dituntut mampu memperkuat budaya organisasi dan memfasilitasi kebutuhan kerja yang terus berkembang.
Dalam penyelenggaraannya, konferensi ini membedah tiga pilar utama, mencakup Workspace as an Ecosystem, Technology and Digital Integration, serta Business & Productivity. Sejumlah pembicara internasional turut hadir membagikan perspektif global, di antaranya perwakilan dari Steelcase, Zoom, Aedas, dan Amazon, dengan moderator dari Milliken.
Sekedar informasi, VIVERE Group, yang beroperasi sejak 1984 kini menaungi enam unit bisnis di bidang kontraktor interior, manufaktur furnitur, hingga jasa mekanikal dan elektrikal. Karena itu penyelenggaraan program DFL diyakini akan menjadi wadah pertukaran pengetahuan terpadu guna memperkuat ekosistem industri interior dan properti di Indonesia.