Jakarta, Properti Indonesia - Direktur Utama Infiniti Land, Samuel S. Huang menjadi narasumber di diskusi "Punya Rumah, Punya Karir, Masih Mungkinkah?" yang diadakan Universitas Indonesia (UI) dan IQI Malaysia di Kampus UI Salemba Jakarta, Rabu (26/8).
Dalam diskusi bertema "Generasi Muda, Hunian Berkualitas dan Berkelanjutan. Mungkinkah?" tersebut, Samuel yang juga Bendahara Umum DPP Realestat Indonesia (REI) di hadapan sekitar 200 mahasiswa memperkuat UI menjelaskan secara detail komitmen, usaha dan kerja keras yang dilakukan manajemen Infiniti Land hingga bisa meraih predikat sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH) Predikat Utama yang pertama untuk perumahan bersubsidi dari Kementerian PUPR (sekarang Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman).
Dikatakan, sertifikat BGH yang diterima Perumahan Mulia Gading Kencana (MGK) Serang dicapai melalui kerja keras dan kerja bersama dari seluruh jajaran manajemen Infiniti Land sebagai komitmen awal dalam menyediakan perumahan terjangkau berkualitas, melalui pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat rendah (MBR).
“Ada komitmen dan perjuangan yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh untuk meraih sertifikat Bangunan Gedung Hijau, mengingat biaya produksi untuk membangun rumah bersertifikat BGH predikat utama itu lebih tinggi 8-12 persen dari membangun rumah biasa.Tetapi karena visi-misi kami adalah membangun dengan hati, maka sangat bersyukur semua ini bisa diraih,” ungkap Samuel.
Dia menyebutkan, Perumahan MGK Serang telah melewati rangkaian seleksi, survei dan studi yang panjang dari Kementerian PUPR. Seleksi ketat meliputi 7 aspek yakni pengelolaan tapak, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan udara, kualitas udara dalam ruang, material ramah lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengelolaan limbah.
“Dan khusus untuk subsidi perumahan, syaratnya tidak mudah karena harga jual rumah subsidi itu sudah dipatok oleh pemerintah, sehingga dari sisi harga tidak bisa ditambahkan (harganya),” ujar Samuel.
Tetapi, Infiniti Land menjalankan kondisi tersebut sepenuh hati dengan harapan MBR yang membeli dan menempati rumah subsidi dan rumah pertama mereka dapat menikmati perumahan berkualitas baik dengan ruang terbuka hijau yang memadai.
Beberapa syarat BGH yang harus disiapkan adalah sebagai berikut. Keberadaan kolam retensi (retention pond) atau waduk di perumahan yang berfungsi sebagai area penampungan air dan aliran drainase untuk mencegah banjir di permukiman. "Kami siapkan lebih dari 2 hektar lahan untuk menampung air hujan dan limbah air rumah tangga, sebelum berproses dan sesuai standar untuk disalurkan ke sungai," jelasnya.

Selain itu, tidak hanya efisien dalam menggunaan material bangunan, pemakaian energi di rumah tersebut juga harus hemat untuk menekan beban penghuni. Diantaranya dengan pemakaian lampu LED di setiap rumah, serta pencahayaan dan sirkulasi ruangan yang optimal.
“Untuk sirkulasi udara dan pencahayaan di dalam rumah, plafon rumah (ceiling) ruang tamu kami buat setinggi 3,5 meter dan ceiling kamar setinggi 2,8 meter. Hal ini membuat udara sejuk di dalam ruangan dan tidak perlu pakai AC. Tapi jika memang perlu pasang AC, kapasitasnya cukup 1/2 PK. Hal ini untuk menghemat pemakaian energi listrik," sebutnya.
Untuk menjaga ketersediaan air tanah dan mengurangi pemborosan air, Perumahan MGK Serang sudah menggunakan air PAM.
Untuk pengelolaan limbah, perumahan MGK Serang menyediakan bio septictank, yang mana produsen septictank ini memberi garansi penggunaan seumur hidup. Sehingga konsumen dan masyarakat yang membeli rumah di MGK Serang tidak perlu pusing lagi bagaimana cara mengelola limbah rumah tangga.
“Inilah beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar satu perumahan bisa mendapatkan sertifikat Bangunan Gedung Hijau. Dan kami sangat berterima kasih MGK bisa menjadi perumahan subsidi pertama yang meraih sertifikat BGH predikat Utama,” ungkap Samuel, yang menyebutkan proses seleksi, studi dan sidang pemaksaan dilakukan Kementerian PUPR selama 3-6 bulan.
Manfaat Media Sosial
Sementara itu, menunjukkan peluang bisnis di era digital 4.0, menurutnya saat ini kekuatan media digital dan media sosial sangat menentukan. Di mana pola-pola pemasaran ( marketing ) dengan membagikan brosur sudah kurang efektif, karena sebagian besar konsumen properti kini adalah Gen-Z yang melek digital.
"Mau tidak mau, kita harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Kami memiliki tim khusus yang mengurusi semua lini media sosial (medsos). Bisa kami sampaikan bahwa 80 persen penjualan kami saat ini adalah dari media sosial, bukan lagi hanya bagi-bagi brosur," paparnya.
Selain itu, pengembang yang berulang kali memperoleh penghargaan dari berbagai institusi itu juga terus membangun komunikasi yang baik dengan warga penghuni perumahan. Antara lain dengan keterlibatan dalam aktivitas warga, dan pertemuan rutin. Selain itu, MGK mempunyai divisi khusus Tenant Relation, yang membina komunikasi, melakukan sosialisasi dan menampung aspirasi warga perumahan. Hal itu semua dilakukan untuk memberikan kenyamanan paripurna bagi seluruh konsumen MGK Serang.
Dari sisi tantangan, sektor perumahan saat ini sedang menghadapi kenaikan harga bahan material akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan peningkatan biaya logistik. Untuk itu, pengembang rumah subsidi yang harga jualnya sudah ditetapkan pemerintah harus jeli agar terus bisa membangun dengan baik tanpa mengurangi spesifikasi dan kualitas bangunan yang dibangun.
"Bahan material terus naik, jadi pengembang harus bisa kreatif dan memikirkan jalan keluar. Contohnya beli langsung dari pabrik dalam jumlah besar sekaligus supaya harga lebih bersaing. Efisiensi penggunaan material dan pengawasan harus ketat sekali, sehingga tidak ada material yang terbuang," jelas Samuel.
Meski menghadapi tantangan yang berat, namun dia menyampaikan rasa syukur dengan adanya kebijakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman yang sangat mendukung pembangunan rumah buat MBR, seperti pembiayaan BPHTB dan biaya PBG, serta insentif PPN DTP.
“Menteri PKP Pak Maruarar Sirait sudah bekerja sangat keras sekali agar MBR bisa memiliki rumah yang layak huni melalui sinergi dengan berbagai instansi terkait,” kata Samuel.