CEO PT Damai Putra Group, Alim Gunadi: Transformasi Bisnis Hingga Rencana IPO

CEO PT Damai Putra Group, Alim Gunadi: Transformasi Bisnis Hingga Rencana IPO
Ikon Kota Harapan Indah di Bekasi (Rizki / Properti Indonesia)

Jakarta, Properti Indonesia - Tahun ini tepat 43 tahun usia Damai Putra Group (DPG) di kancah industri properti Indonesia. Dalam rentang usia yang tak singkat tersebut, lebih dari 30 ribu rumah dan berbagai kawasan komersial berhasil dibangun dan diserahterimakan kepada pemiliknya. Bagi DPG, menjaga komitmen saja tentu tak cukup untuk mempertahankan eksistensi perusahaan tanpa adanya upaya transformasi bisnis yang berkelanjutan. Karena itu dibutuhkan pemimpin transformatif yang mampu mengimplementasikan berbagai visi perusahaan tersebut.

Pada awal tahun 2024 lalu, pengembang Damai Putra Group (DPG) mendapat angin segar dengan hadirnya Alim Gunadi Sukanto yang menempati jabatan sebagai Chief Executive Officer (CEO).

Lulusan S2 Manajemen strategis dari Universitas Prasetiya Mulya ini tak hanya dipercaya untuk mengembangkan strategi bisnis dan meningkatkan profitabilitas perusahaan, namun juga mengembangkan potensi internal untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar perusahaan. Salah satu tugas profesional yang telah malang melintang di berbagai sektor industri ini diantaranya; melakukan remaster plan lanbank Kota Harapan Indah seluas 1400 hektar, mentransformasi strategi bisnis perusahaan hingga rencana IPO pada tahun 2026 mendatang.

“Ambisi perusahaan untuk bertansformasi menjadi lebih modern inilah yang membuat ketertarikan saya untuk bergabung dengan PT Duta Putra Group,” ujar Alim Gunadi kepada Properti Indonesia, awal Juni 2024 lalu. Di tengah kesibukannya, profesional yang pernah berkecimpung dalam industri kelapa sawit dan minyak goreng tersebut bercerita banyak hal berkaitan dengan rencana strategis perusahaan maupun pandangannya terhadap situasi dan kondisi sektor properti dalam negeri. Berikut wawancara lengkapnya.

Alim Gunadi Sukanto, CEO Damai Putra Group

Bagaimana pandangan Anda terkait situasi dan kondisi sektor properti di Indonesia saat ini?

Terkait kondisi saat ini, kita bersyukur karena pemilihan Presiden dan wakil presiden sudah selesai dan berlangsung dengan lancar. Menurut kabar, di pemerintahan ke depan, akan ada Kementerian Perumahan Rakyat yang sebenarnya kondisi ini sangat diharapkan oleh para pelaku usaha properti. Selama hampir 10 tahun terakhir, Kementerian Perumahan Rakyat digabung dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Sehingga kebijakannya bisa dikatakan tidak terlalu “signifikan”.

Tak jarang, peraturan yang sudah keluar tapi eksekusinya tidak sesuai harapan. Dengan adanya Kementerian Perumahan nantinya diharapkan bisa lebih fokus dan bisa mengakomodir berbagai hal di sektor properti. Karena sampai sekarang blacklog rumah masih belum selesai dan dan yang harus dicatat,  konsumen yang datang adalah mereka-mereka yang berasal dari gen X, gen Y dan gen Z. Meski yang paling potensial adalah  gen Y dan Z karena secara populasi di atas 50%.

Lalu, bagaimana tantangan bisnis saat ini?

Saat ini, memang ada tekanan-tekanan global sehingga akhirnya Bank Indonesia harus menaikan BI Rate menjadi 6,25%. Kondisi ini tentu berdampak pada program-program perbankan khususnya KPR. Sebab, kenaikan 1 atau 2% saja merupakan yang sangat luar biasa.

Bagi para pelaku usaha properti, kondisi ini merupakan sebuah tantangan, apalagi di masa-masa terakhir pemerintahan Jokowi akan ada beberapan insentif yang juga akan berakhir. Selain itu, yang perlu diwapadai terkait wacana kenaikan PPN menjadi 12% sehingga akan berdampak kepada total harga yang harus dibayarkan konsumen. Memang saat ini BI memberikan kelonggaran dan banyak developer yang memberikan gimmick nol persen, namun kalau menurut saya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konsistensi mereka bisa membayar cicilan sampai selesai. 

Bagaimana Anda melihat kebijakan Tapera yang sedang ramai?

Dari sisi karyawan tentu mereka akan dibebani oleh potongan. Namun, bagi kami yang penting Tapera ini tidak hanya sekedar mengumpulkan dana masyarakat dalam artian gotong royong, tapi yang harus diperhatikan adalah masalah kepastian.

Di Indonesia, kadang-kadang satu kebijakan itu untuk petunjuk pelaksanaannya agak panjang, sementara sosialisasinya justru kurang maksimal. Terkait Tapera, kalau memang tujuannya untuk memberikan perumahan bagi masyarakat yang dianggap kurang mampu, ya baik-baik saja.

Akan tetapi harus dilihat efek dari bisnis ini. Kalau kita lihat saat ini backlog di Indonesia sebanyak 12 juta rumah dan sebagian besar berasal dari masyarakat menengah kebawah.Yang harus dicatat, sekarang saja harga rumah FLPP itu sekitar Rp240 juta untuk rumah tapak dan Rp300 jutaan untuk rumah susun. Nah, untuk Tapera nanti rumah model apa dan lokasinya dimana, lalu aksesibilitasnya seperti apa?  

Yang kita harus pikirkan juga bagaimana kondisi keuangan daripada si pembeli ini dan apakah bunga dan prosesnya dibuat lebih fleksibel? Apakah ada perbankan yang memang bisa membantu karena terus terang untuk FLPP inikan sebenarnya digelontorkan dana yang cukup besar terutama untuk perbankan, namun kuotanya justru selalu habis karena memang peminatnya yang banyak.

Sejak kapan Anda mulai bergabung ke Damai Putra Group?

Saya bergabung di PT Damai Putra Group sejak Februari 2024. Ketertarikan saya saat itu karena Perusahaan ini berambisi untuk bertansformasi menjadi lebih modern. Target yang diberikan ke saya pertama perusahaan ini mempunya mimpi menjadi leibh kompetitif dan lebih modern hingga rencananya akan tercatat di bursa atau IPO. Sekarang kita sudah memulai perjalanan kesana.Ketiga bagaimana kita mencoba meningkatkan brand menjadi lebih baik, mulai dari logo persepsi, promotion, branding hingga marketing. Kita juga memperhatikan customer experience yang kita sinergikan dengan teknologi.

Termasuk dengan rencana transformasi pengembangan Kota Harapan Indah?

Benar. Saat ini total konsesi lahan perumahan di Kota Harapan Indah adalah seluas 2200 hektar. Dan, yang sudah dikembangkan adalah sekitar 800 sampai 900 hektar. Secara komposisi, berbagai kebutuhan sebuah kota sudah tersedia di sini. Khususnya terkait kebutuhan dasar seperti pasar, sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, rumah sakit, area rekreasi serta komersial area. Jadi sebagai kawasan hunian skala kota, Kota Harapan Indah ini sudah memenuhi berbagai kebutuhan para penghuninya.

Namun apakah itu cukup? Tidak. Karenanya dengan sisa lanbank sekitar 1400 hektar kota ini akan didevelop menjadi lebih modern. Saat ini yang sedang kita lakukan adalah remaster plan dari 1400 hektar lahan tersisa yang rencananya tahun ini selesai desainnya. Lanbank ini nantinya akan diperuntukan ke dalam tiga konsep pengembangan yaitu residential, komersial dan industrial. Sebagai informasi, lahan Kota Harapan Indah ini membentang dari Kota Bekasi hingga ke Jakarta Utara.

Apa saja transformasi yang akan dilakukan pada Kota Harapan Indah?

Pertama kita memperbaiki wajah kota dengan melakukan penataan bahwa kota ini jangan sampai banjir karena ini areanya bisa dikatakan terjepit. bahkan pada saat beberapa kawasan sekitar banjir, di sini justru tidak banjir karena kita memperlakukan manajemen pengaturan water level yang baik.

Kedua bagaimana kita meningkatkan keamanan kota agar bagaimana warga merasa aman tinggal di dalamnya karena sekarang “kriminal” mulai naik lagi otomatis langkah-langkah yang kita lakukan selain apparat juga dengan teknologi dan ketiga, bagaimana kota ini bersih memberikan rasa nyaman contoh pengelolahan sampah yang nantinya bekerjasama dengan stakeholder. Dan, terakhir bagaimana penghuninya bisa menikmati kotanya.

Sejauh mana transformasi tersebut berjalan?

Kita sudah berjalan sejak April kemarin, dimulai dengan penataan landscape kawasan, kemudian pengaturan level air dan sekarang kita memperhatikan keamanan, kemudian kita juga akan melakukan beberapa perbaikan jalan yang saat ini rusak dan kita juga melihat bagaimana lalu lintas di Kota Harapan Indah tidak semrawut Kalau total kita sudah bangun sekitar 15.000 kalau dikali empat itu sekitar 60.000 kepala.

Kalau dikalkulasi mungkin setiap hari lebih dari 50 ribu orang di luar eksisting yang melintas Harapan Indah karena dari KBN Marunda paling dekat tempat makan di sini dan kedua banyak juga anak-anak yang sekolah di sini bahkan tempat tinggalnya di daerah sekitar. Kita juga punya rumah sakit yang cukup bagus ada tiga skala besar, kita punya apartemen dan investor yang menyewakan unitnya.

Bagaimana persaingan antar pengembang di kawasan sekitar Jakarta Timur dan Bekasi yang saling bersisian?

Menurut kami persaingan itu hal yang wajar, tetapi yang penting adalah bagaimana kita melihat oportuniti karena tidak semua yang ditawarkan oleh pesaing itu punya ekspektasi. Jadi sebenarnya kalau lihat persaingan untuk properti dari Rp200 juta sampai Rp8 miliar ada disini. Di Harapan Indah kita punya stok rumah mulai dari Rp4 sampai dengan Rp5 miliar.

Tapi kita juga unit rumah dengan harga Rp400 jutaan untuk apartemen. Kalau di Harapan Indah sendiri kita saat ini mulai sekitar Rp800 jutaan untuk rumah tapak. Yang pasarnya paling gemuk itu sekitar Rp1 sampai Rp2 miliar. Dalam waktu dekat kita juga akan kembali melaunching klaster baru. Penjualan kita cukup konservatif dari buget yang kalau lihat data sekitar 70%, untuk target tahun ini kita punya program seal the deal mempunyai target sekitar Rp1,3 triliun.

Memang tak bisa dipungkiri, untuk tahun ini di bulan Maret-April itu ada pelemahan sekitar 25% namun kita masih on the track. Kontribusi terbesar saat ini ada di residensial karena ruko kita sendiri tidak banyak. Tahunlalu kita sempat pasarkan ruko baru, namun 80% sold out. Saat ini rata-rata pertumbuhan harga rumah di Harapan Indah berkisar antara 6% sampai dengan 9% tergantung dari lokasi klaster.**      

 

Tags
#Harapan Indah