Jakarta, Properti Indonesia - Pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mencatat kondisi yang relatif stabil sepanjang kuartal II-2025. Tidak adanya penambahan pasokan baru selama periode ini, membuat total pasokan kumulatif tetap di angka 7,45 juta meter persegi.
Laporan terbaru dari Leads Property Services Indonesia mengungkapkan bahwa ketiadaan proyek baru memberikan ruang bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang masih tersedia. Dengan persaingan sewa yang lebih kompetitif, kondisi ini dinilai memberi kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan konsolidasi ruang secara lebih efisien.
Menurut Leads Property, secara lokasi, kawasan Jenderal Sudirman dan SCBD masih menjadi pusat dominasi pasar, mencakup hampir 40 persen dari total pasokan ruang perkantoran di CBD. Kawasan lain seperti Rasuna Said dan Gatot Subroto menyusul dengan pangsa masing-masing sebesar 16 persen dan 15 persen.
Associate Director Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea menuturkan, meski aktivitas sewa masih berjalan aktif, tingkat serapan bersih pada kuartal ini tercatat melambat. “Banyak perusahaan tetap menunjukkan minat untuk pindah ke gedung dengan kualitas lebih baik dan lokasi strategis. Namun, tren kerja hibrida yang semakin mapan turut mendorong perusahaan melakukan relokasi dengan ukuran ruang yang lebih kecil,” ujar Martin dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/7).
Strategi rightsizing ini, sebutnya, mencerminkan bahwa penyewa tidak serta-merta menambah ruang, melainkan lebih fokus pada efisiensi dan optimalisasi penggunaan ruang. Pada kuartal II-2025, serapan bersih tercatat sebesar 16.355 meter persegi, dengan permintaan terbesar datang dari sektor teknologi informasi, perbankan, serta minyak dan gas.
“Kebutuhan akan gedung Grade A dan Premium tetap tinggi, seiring berubahnya pola kebutuhan ruang kerja. Hal ini turut mendorong tingkat hunian (okupansi) kawasan perkantoran CBD meningkat tipis menjadi 72,8 persen, atau naik 0,22 persen dibanding kuartal sebelumnya. Tanpa adanya pasokan baru hingga akhir tahun, okupansi diperkirakan dapat mendekati 73 persen,” terangnya.
Dari sisi harga sewa, pasar menunjukkan tren kenaikan yang moderat. Rata-rata harga sewa bruto tercatat sebesar Rp333.400 per meter persegi per bulan, atau naik 0,6 persen dibanding kuartal sebelumnya. Kawasan dengan akses transportasi umum yang baik serta konsentrasi gedung Grade A mengalami kenaikan sewa tertinggi akibat terbatasnya ruang tersisa.
Namun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat tekanan ekonomi global menyebabkan harga sewa dalam dolar mengalami koreksi 0,4 persen menjadi USD20,2 per meter persegi per bulan. Sementara itu, harga jual strata office di CBD juga mengalami sedikit penurunan dari kuartal sebelumnya. Harga rata-rata tercatat sebesar Rp55,66 juta per meter persegi atau setara dengan USD3.370.