Permintaan Rumah Menengah dan Atas Terus Meningkat

Permintaan Rumah Menengah dan Atas Terus Meningkat
Ilustrasi properti (getty images)

Jakarta, Properti Indonesia - Kawasan Asia Tenggara diperkirakan menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi global dengan pertumbuhan rata-rata 4,7 persen di tahun 2023. Berdasarkan laporan Southeast Asia Outlook 2023 Cushman & Wakefield, angka tersbeut mendekati tingkat pertumbuhan rata-rata sebelum pandemi sekitar 5 persen per tahun. Di Indonesia, pertumbuhan ekonominya diperkirakan sebesar 4,5 persen hingga 5,3 persen di tahun ini. 

Ekspansi ini didorong oleh peningkatan belanja konsumen, peningkatan aktivitas bisnis, dan peningkatan mobilitas seiring dengan berkurangnya pembatasan akibat Covid-19. Namun, menyusul tingginya inflasi yang mendorong kenaikan harga pada tahun 2022, serta rencana pemilu pada tahun 2024, Rupiah diperkirakan masih terdepresiasi sampai batas tertentu antara tahun 2023 dan 2024.

Pada laporan tersebut, terdapat outlook mengenai beberapa sektor di Indonesia pada tahun ini. Di sektor rumah tapak, kepercayaan pasar terhadap produk rumah tapak di Indonesia terus meningkat, dengan mayoritas permintaan berasal dari segmen menengah dan atas. Hal ini didorong oleh kebutuhan utama populasi Indonesia yang besar, serta peningkatan daya beli secara umum pasca-pandemi. 

Sebagian besar permintaan rumah tapak juga berasal dari end user yang membeli rumah pertama mereka, permintaan rumah tapak diproyeksikan akan terus relatif stabil di tahun ini, meskipun ada kekhawatiran ekonomi global. Adapun tingkat penjualan rumah tapak di kawasan Jakarta selama kuartal keempat tahun 2022 mencapai 94,6 persen, dengna persediaan saat ini mencapai 416.500 unit, dan suplai sepanjang tahun 2023-2027 mencapai 62.000 unit. 

Di sektor industri, ketersediaan lahan industri semakin terbatas, sementara permintaan dari industri berteknologi tinggi seperti pusat data (data center) dan kendaraan listrik masih ada. Selain rendahnya tingkat kekosongan pasar gudang dan pertumbuhan sektor logistik, ada peningkatan permintaan dari sektor lain seperti manufaktur, bahan mentah, dan otomotif. Bisnis sewa diharapkan stabil karena persaingan pasar yang tinggi, dan pasokan baru masuk yang menunjukkan pasar gudang masih dianggap menarik bagi investor. 

Selanjutnya di sektor ritel, penyerapan bersih ruang ritel yang positif akan berlanjut di tahun ini seiring dengan kembalinya lalu lalu lintas pengunjung ke tingkat pra-pandemi. Tarif sewa ritel juga diperkirakan tetap stabil karena tuan tanah melanjutkan upaya mereka untuk mempertahankan dan menarik peritel baru. Cushman & Wakefield juga mencatat tarif sewa rata-rata mengalami sedikit peningkatan sebesar 0,1 persen pada tahun 2022 menjadi Rp808.500 per m2 per bulan, terutama disebabkan oleh kenaikan sewa dasar rata-rata ruang. Sedangkan service charge tetap stabil di Rp190.40 per m2 per bulan. 

Tags
#Berita Properti #Investasi Properti #properti #ritel #cushman & wakefield #residensial #kawasan industri