Pasar Perkantoran CBD Jakarta Masih Stagnan

Pasar Perkantoran CBD Jakarta Masih Stagnan
Gedung perkantoran (Properti Indonesia)

Jakarta, Properti Indonesia - Pasar perkantoran di kawasan CBD Jakarta mengalami stagnansi pasokan. Hal ini ditandai dengan tidak adanya penambahan pasokan baru, sehingga angka pasokan tetap stabil di angka 7,38 juta m2. 

Assocate Director, Research & Consultancy Department Leads Property Indonesia, Martin Samuel Hutapea mengatakan, meskipun tingkat kehadiran perkantoran mulai stabil karena kebijakan kembali ke kantor, namun para pemilik gedung masih berhati-hati untuk meluncurkan proyek-proyek baru. 

"Terutama karena kondisi kelebihan pasokan yang masih terus berdampak pada pasar," ujar Martin dalam siaran pers, dikutip Senin (31/7). 

Meski begitu, ada antisipasi untuk dua proyek yang akan datang di semester kedua tahun 2023, menambah 64.000 m2 ruang kantor baru, termasuk 51.000 m2 perkantoran Grade A oleh Luminary Tower dan 13.000 m2 Grade B oleh Transport Hub. Pada kuartal II 2023, CBD Jakarta mengalami sedikit peningkatan dalam penyerapan bersih, tumbuh 7,4 persen (QoQ) sebesar 7.315 m2. Peningkatan tersebut didorong oleh aktivitas penyewaan di sektor teknologi dan manufaktur. 

"Tren flight-to-quality yang sedang berlangsung terus berlanjut untuk mengincar gedung perkantoran Grade A dan Premium yang menyediakan kualitas bangunan yang sangat baik yang selaras dengan persyaratan lingkungan, sosial, dan tata kelola," jelas Martin. 

Pasar CBD mengalami sedikit peningkatan tingkat hunian, naik tipis sebesar 0,10 persen (QoQ) menjadi 71,7 persen. Ada antisipasi untuk penyesuaian lebih lanjut dalam tingkat hunian pada akhir tahun. Penyesuaian ini disebabkan oleh masuknya dua gedung baru yang dijadwalkan akan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2023. 

Pada kuartal kedua, tidak ada bangunan baru yang ditambahkan ke dalam pasokan kumulatif sehingga pasokan stabil di 4,16 juta m2. Namun, pasar diperkirakan akan menyaksikan masuknya pasokan baru dari proyek-proyek seperti Stature Tower dan Gedung Sanggala yang diproyeksikan selesai akhir tahun ini. 

Mayortas pasokan kumulatif di uar CBD Jakarta terkonsentrasi di Jakarta Selatan yang mencapai 1,85 juta m2, mewakili 45 persen dari total pasokan. Koridor TB Simatupang dan Pondok Indah masih aktif dalam transaksi perkantoran dan dianggap sebagai pusat wilayah administratif tersebut. 

Perminitaan kumulatif di pasar perkantoran mengalami pertumbuhan karena beberapa sektor, termasuk logistik, komoditas, dan institusi pemerintah, melakukan ekspansi dan mendirikan kantor baru di luar CBD. 

Ke depannya, permintaan ruang kantor di luar CBD Jakarta diperkirakan akan menghadapi lebih banyak pilihan di masa depan karena pembangunan MRT Jakarta sedang dibangun menuju Jakarta Utara. 

"Mirip dengan fenomena yang diminati di koridor TB Simatupang di Jakarta Selatan, pembangunan jalur-jalur MRT di Jakarta Pusat dan Utara diantisipasi akan menarik penyewa baru di gedung-gedung perkantoran di area-area tersebut, sehingga mendorong permintaan dan aktivitas pasar," ungkap Martin. 

Sementara itu, harga sewa rata-rata di pasar perkantoran CBD Jakarta masih stabil dengan berada di angka Rp330.632 per m2 per bulan. Para pemilik gedung masih memilih untuk mempertahankan harga sewa dan juga menawarkan paket-paket sewa yang kompetitif. 

Dalam hal harga strata di CBD, harga pasar masih mengalami sedikit penurunan 0,3 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya atau turun 2,3 persen dari tahun sebelumnya, dengan angka Rp55.727.500 per m2. 

Harga sewa di luar CBD Jakarta juga telah stabil karena para pemilik gedung secara strategis memposisikan harga sewa mereka agar tetap kompetitif dan menarik. Tarif sewa koto di kuartal II rata-rata Rp240,539 per m2 per bulan, dan harga sewa perkantoran strata title OCBD mengalami sedikit pertumbuhan sebesar 0,5 persen sebesar Rp31.755.500. 

Tags
#Perkantoran #Berita Properti #properti #Jakarta