Okupansi Pusat Perbelanjaan di Jakarta Masih Rendah pada Q1 2023

Jakarta, Properti Indonesia - Tingkat hunian atau okupansi pusat perbelanjaan pada kuartal pertama tahun 2023 belum mengalami peningkatan meskipun pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah dicabut sejak akhir tahun 2022 lalu.  

Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, okupansi pusat perbelanjaan di kuartal ini hanya 69 persen. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan pada kuartal keempat 2019 atau sebelum pandemi yang tercatat di level 79,8 persen. 

"Okupansi ini relatif rendah di bawah 70 persen sekarang ini, karena kinerja tiap tipe dari shopping center itu memang tidak terlalu merata," ujar Ferry dalam Colliers Virtual Media Briefing kuartal I 2023, Rabu (5/4). 

Meski begitu, okupansi pusat perbelanjaan pada kelas menengah atas dan premium masih cukup tinggi di kuartal pertama tahun ini, masing-masing berada di tingkat 79,3 persen dan 84,5 persen. Sementara okupansi terendah terjadi di kelas menengah dengan tingkat 65,9 persen dan menengah bawah 47 persen. 

Lanjut Ferry, rendahnya okupansi pada pusat perbelanjaan kelas menengah ke bawah ini karena bisnis orang-orang yang cenderung tidak bisa dinamis dalam melihat tren pusat perbelanjaan. Hal ini berbeda dengan pusat perbelanjaan kelas atas, yang biasanya lebih berani mengeluarkan modal untuk renovasi mall hingga mengganti tenant baru. 

Seperti tenant-tenant seperti F&B, fashion sport & footwear, entertainment & playground, dan home improvement diperkirakan terus menjadi faktor penarik konsumen. Bisnis supermarket dan department store juga terus berbenah dengan menawarkan konsep baru yang lebih segar untuk menarik banyak konsumen. 

Kemudian untuk rata-rata tarif sewa pusat perbelnjaan di Jakarta tercatat stabil sekitar Rp566.095 pada kuartal I 2023, sedangkan di kawasan sekitarnya (Bodetabek) sekitar Rp375.341 atau turun 2 persen dibandingkan kuartal IV 2022. 

Service charge di Jakarta mencapai Rp153.519 atau naik 2,9 persen, sementara di Bodetabek cenderung stabil di Rp118.815. Kenaikan service charge ini didorong oleh mal kelas menengah ke atas karena didukung dengan membaiknya kinerja mal, baik dari jumlah pengunjung dan tingkat hunian sehingga diperkirakan adanya penyesuaian tarif sewa sepanjang tahun ini, khususnya untuk mal kelas menengah atas. 

Adapun kenaikan tarif sewa tersebut sebesar tingkat inflasi atau sekitar 5 persen, atau lebih tinggi tergantung dari okupansi dan jumlah kunjungan mal. Pemilik mal biasana memiliki daa trafik yang masuk sebelum menawarkan sewa kepada calon tenant. Sehingga negosiasi akan lebih menguntungkan bagi pengelola, terutama jika okupansinya tinggi. 

Tags
#Pusat Belanja #Berita Properti #properti #Mall Matahari Pontianak #colliers indonesia