Jakarta, Properti Indonesia – Sektor hospitality tengah berusaha mengatasi berbagai tantangan yang diakibatkan dari lemahnya kinerja industri pariwisata selama beberapa tahun terakhir. Sektor ini juga menghadapi penyesuaian bisnis secara umum, terutama akibat pandemi Covid-19. Pandemi telah memberikan dampak pada karyawan, pemilik, pemasok atau vendor dan masyarakat. Ketidakpastian dalam keberlangsungan bisnis di sektor ini dialami oleh seluruh pemangku kepentingan.
Head of Hospitality Services Colliers Indonesia, Satria Wei mengatakan bahwa bisnis perhotelan sangat rentan terhadap perubahan di lingkungan sekitarnya. Tujuan bagi sektor perhotelan saat ini yaitu untuk mengembalikan kinerja pada tingkat pra-pandemi, dan hal tersebut harus ada perubahan atau pergeseran.
“Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, sektor ini membutuhkan kreativitas dan keandalan dari para pemimpin dan semua orang yang terlibat,” ujar Satria dalam press release Colliers Indonesia, Kamis (21/7).
Berdasarkan data yang dirilis oleh Colliers menyebutkan bahwa tingkat hunian atau okupansi kamar hotel di Jakarta, Surabaya, dan Bali dapat mencapai tingkat pra-covid 19 lebih cepat dari yang diproyeksikan. Di Jakarta, volume bisnis hampir sama dengan tahun 2019. Kemudian di Surabaya mengalami situasi yang sama dengan Jakarta, terutama karena wisatawan domestik masih mendominasi pasar.
Selanjutnya, okupansi hotel di Bali masih tertinggal jauh bila dibandingkan dengan situasi sebelum pandemi. Sebagian besar wisatawan yang pergi ke Bali lebih memilih akomodasi hotel berbintang yang lebih tinggi atau akomodasi vila mewah.
“Okupansi di Jakarta dan Surabaya lebih tinggi karena terdapat kegiatan tambahan seperti pernikahan, MICE dan acara offline lainnya. Namun, di Bali lebih mengandalkan wisatawan rekreasi dengan lebih sedikit aktivitas MICE. Pertumbuhan okupansi ditentukan menurut musimnya, namun, bila tingkat hunian Bali dilihat secara keseluruhan, peningkatannya masih sangat moderat,” jelas Satria.
Pandemi telah memberikan dampak ke sejumlah pihak
Hal ini tentunya memberikan berbagai dampak kepada berbagai pihak. Untuk pemilik, pada tahun-tahun yang akan datang harus bisa ditentukan investasi riil yang melibatkan perhitungan keuangan seperti return on investment (ROI), internal rate return (IRR), cap rates, dan yang tidak mengedepankan target non finansial.
Pada pekerja profesional, salah satu dampaknya adalah jumlah personel yang tersedia. Saat ini, kepercayaan calon personel di sektor pariwisata terlihat sebagai sektor yang sangat sensitif jika terjadi krisis. Kurangnya personel juga akan berdampak pada kualitas layanan dan berdampak pada jumlah penjualan serta pendapatan yang dihasilkan.
Akibat penurunan daya beli dan biaya produksi yang tinggi, terdapat pula penurunan tidak langsung pada kualitas produk atau jasa yang ditawarkan atau disediakan oleh pemasok kepada pelaku industri. Sementara untuk konsumen, pandemi telah menciptakan kebiasaan baru yang berorientasi pada kesehatan dan keamanan. Berlakunya protokol baru yang harus diterapkan akan berdampak pada biaya dan kenaikan biaya tersebut berarti harga yang lebih tinggi yang harus dibayar oleh konsumen.
“Pada akhirnya, jawaban mengenai apa aset yang paling berharga pada saat ini bagi pelaku industri adalah sumber daya manusia. Sekitar 22%-26% dari biaya operasional akan dialihkan untuk tenaga kerja tetapi, tanpa menghabiskan jumlah seperti itu, akan ada efek domino pada kualitas produk yang ditawarkan, yang akan mempengaruhi kepuasan pelanggan dan berpengaruh terhadap angka pendapatan,” ungkap Satria.
Beberapa strategi perlu ada untuk memikat personel kembali ke industri. Oleh karena itu, pemilik atau investor memiliki rencana untuk melakukan investasi pada sektor perhotelan tidak lagi hanya berfokus pada konsep, lokasi, dan tipe properti, melainkan juga mengedepankan investasi pada sumber daya manusia.