Leads Property: Insentif PPN Tidak Berpengaruh Banyak pada Sektor Kondominium

Leads Property: Insentif PPN Tidak Berpengaruh Banyak pada Sektor Kondominium
Apartemen di Jakarta (dok Properti Indonesia)

Jakarta, Properti Indonesia – Rendahnya permintaan kondominium di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, membuat mayoritas developer masih ragu untuk meluncurkan proyek apartemen baru ke pasaran, setidaknya hingga tiga bulan pertama di tahun 2024. 

 Menurut catatan Leads Property, satu-satunya pasokan hanya berasal dari The Belton Residence yang berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur. Apartemen lansiran PT Synthesis Karya Pratama ini merangkum sebanyak 192 unit atau berkontribusi pada pasokan kumulatif sebesar 0,07% dibanding kuartal sebelumnya.

Dalam laporannya bertajuk Jakarta Property Market Insight Q1 2024, Leads mencatat, meskipun terdapat kebijakan insentif PPN, namun permintaan apartemen secara keseluruhan hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1%. Hal ini tak terlepas dari dampak penyelenggaraan pemilihan Presiden 2024-2029, khususnya terkait adanya ketidakpastian kondisi pasca pemilu sehingga turut mempengaruhi sentimen para pembeli.

Akibatnya, permintaan triwulanan pada periode ini hanya sebesar 106 unit dan tingkat penyerapannya lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu. Yang menarik, meski permintaan naik tipis, namun tingkat penjualan apartemen di Jakarta tetap stabil di angka 82,7%

.“Pada kuartal ini, mayoritas pembeli kondominium adalah pengguna akhir yang lebih memilih untuk tinggal di Jakarta, namun tidak dapat membeli rumah di Jakarta,” ujar Martin Samuel Hutapea, Associate Director Leads Property dalam keteranganya, Rabu (01/04) lalu.

Martin menuturkan, sektor kondominium di Jakarta telah mengalami kondisi pasar yang stabil dalam jangka waktu lama. Menurutnya, meskipun pemerintah menawarkan insentif PPN, namun tetap belum mampu meningkatkan minat pembeli.

“Sebaliknya, insentif PPN lebih banyak dinikmati oleh sektor perumahan tapak. Selain bersaing dengan rumah tapak, pasar kondominium primer juga bersaing dengan pasar sekunder sehingga menawarkan harga yang lebih kompetitif. Penyesuaian harga jual di subpasar CBD dan prime Jakarta, misalnya, masing-masing mencapai Rp56,6 juta dan Rp47,2 juta per meter persegi,” pungkas Martin.

Dirinya menambahkan, developer di segmen ini akan menghadapi fase stagnasi karena pasar menandakan permintaan yang lambat meskipun dengan adanya insentif PPN. Perlambatan ini lebih lanjut diperkirakan akan membayangi pasar karena pemerintah berencana menaikkan PPN menjadi 12% di tahun depan.

“Yang dikhawatirkan investor akan semakin ragu dalam mengambil keputusan terkait pembelian unit kondominium. Hal ini akan membuat pasar bergantung pada pengguna akhir, yang cukup menantang karena sebagian besar kondominium diperuntukkan bagi investor, ditandai dengan dominasi tipe studio dan 1 BR,” jelasnya.

Tak hanya itu, sebut Martin, nilai tukar Rupiah yang terus menunjukkan tren pelemahan-- sekitar Rp15.658/USD pada akhir kuartal pertama tahun 2024--- diyakini akan berdampak pada biaya konstruksi, terutama untuk proyek hunian vertikal baru, sehingga mendorong pengembang untuk menjual dengan harga lebih tinggi.

Tags
#Apartment #kondominium #Jakarta #Leads Property