Ini Dia Subsektor Properti Paling Diminati Investor Asing di Masa Depan

Ini Dia Subsektor Properti Paling Diminati Investor Asing di Masa Depan
Salah kawasan industri di Indonesia (dok MDLN)

Jakarta, Properti Indonesia - Perekonomian Nasional secara tidak langsung sangat dipengaruhi oleh realisasi investasi penanaman modal baik dalam negeri (DDI) maupun domestik (FDI).  

 Meskipun perekonomian bertumbuh secara konsisten, namun, menurut data BKPM penanaman modal secara keseluruhan di Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya saja, pada tahun 2017 realisasi investasi tumbuh 13,1%, sementara di tahun 2018 hanya tumbuh 8,7% dan di tahun 2019 tercatat 7,5%.

Penyebab utama menurunnya pertumbuhan realisasi investasi ini adalah resesi global yang menahan investor asing untuk ekspansi ke Indonesia serta Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Umum (Pemilu), dimana pada saat menjelang tahun 2019, investor asing berada dalam kondisi “wait and see”.

Hendra Hartono, CEO Leads Properti Indonesia menuturkan, pada saat ini sejumlah investor asing sebenarnya masih menunggu apakah akan berinvestasi di Indonesia atau di negara sedang berkembang lainnya, seperti Malaysia, Vietnam atau Thailand. “Terlebih lagi di tahun 2020 adanya pandemi Covid-19, sehingga membuat pertumbuhan penanaman modal secara keseluruhan mengalami penurunan angka sebesar 2,1%,” ujarnya kepada Properti Indonesia, Sabtu (06/02) lalu.

Hendra menyebutkan, jika pertumbuhan penanaman modal diprediksi kembali turun dan berada di kisaran 3,6% - 6,0% per tahun hingga tahun 2023 mendatang. Tren penurunan yang sama juga turut dialami sektor properti yang menurun hingga tahun 2020 atau minus 1,6% dari tahun 2019. Meski begitu, menurut Hendra, sektor ini diprediksikan kembali bertumbuh di kisaran yang cukup moderat yaitu 2% sampai dengan 8% per tahun hingga dua tahun ke depan.

Sektor Properti banyak dibidik

Properti merupakan salah satu sektor yang banyak dibidik oleh para investor, baik asing maupun lokal dalam beberapa tahun terakhir. Leads Properti Indonesia mencatat, dalam kurun lima tahun terakhir, rasio investasi pada sektor properti terhadap keseluruhan nilai investasi meningkat dari tahun ke tahun, dimana puncaknya terjadi di tahun 2018 yang mencapai 13,2% dan kembali menurun ke kisaran 11% pada tahun 2020.

 

 

Head of Research dan Advisory Services Leads Properti Indonesia, Martin Samuel Hutapea mengatakan, di masa yang akan datang diprediksi rasio tersebut akan berada di kisaran 11, 0% sampai dengan 11, 3 %, meningkat dari tahun ke tahun meski tidak signifikan karena investor lebih membidik sektor utility, infrastruktur dan industri berat tertentu seperti listrik, gas, air, metal, logam, peralatan dan lainnya. “Sentimen investor asing terhadap sektor properti di Indonesia bervariasi, tergantung pada sektor dan tipe asset manakah yang diperkirakan dapat memberikan pengembalian keuntungan investasi yang tercepat,” jelas  Martin.

Sebagai contoh, sektor industri menjadi salah satu sektor dengan minat yang tinggi bagi para investor asing. Hal ini dikarenakan, sektor industri memiliki pengembalian tingkat investasi yang lebih cepat. Menurut Martin, minat investasi properti masih didominasi oleh investor asing yang mencari dan memilih untuk menjalin kerjasama Joint Venture dengan kawasan industri yang sudah mapan.

“Tak hanya itu, meningkatnya bisnis E-Commerce dan 3PL juga berdampak kepada kenaikan kebutuhan untuk aset industri beberapa tahun terakhir dimana investor tertarik dengan skema-skema seperti Build to Suit (BTS), jual dan sewa kembali  (sale and lease back) serta aset-aset industri yang memberikan laba atas investasi yang baik,” sebut Martin.

Adapun, sektor yang mendapat minat paling rendah adalah sektor komersial berupa penjualan asset- asset secara En-bloc seperti gedung perkantoran, hotel serta pusat perbelanjaan. Hal ini dikarenakan pengembalian tingkat investasi yang jauh lebih lama akibat tingkat kekosongan yang tinggi pada tipe- tipe asset tersebut, sehingga menyebabkan mendominasinya jumlah penjual dibandingkan dengan jumlah pembeli.

Sementara alasan lainnya adalah tidak banyaknya mall yang ditawarkan ke pasar akibat turunnya jumlah pengunjung dan penjualan para retailer. “Beberapa alasan inilah yang membuat investor akan berhati- hati dalam memilih opsi-opsi yang tersedia jika hendak masuk pada tipe - tipe asset tersebut,” pungkasnya. 

 

 

Tags
#Developer #outlook #Industri #Berita Properti #Bisnis Properti #real estate #global