Jakarta, Properti Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Januari 2022 mencapai 42,43 persen. Dalam laporan BPS bertajuk Perkembangan Pariwisata Transportasi Nasional Januari 2022, dikutip Jumat (4/3), TPK tertinggi tercatat di Kalimantan Timur sebesar 60,78 persen, diikuti oleh TPK di DI Yogyakarta dan DKI Jakarta masing-masing sebesar 59,90 persen dan 52,26 persen. Sementara di Sulawesi Barat tercatat sebagai provinsi dengan TPK terendah yaitu 11,86 persen.
Berdasarkan klasifikasi hotel bintang, okupansi tertinggi pada Januari 2022 tercatat pada hotel bintang 2 sebesar 43,98 persen, sedangkan okupansi terendah pada hotel bintang 1 sebesar 31,60 persen. Jika dibandingkan bulan Januari 2021, peningkatan okupansi paling besar tercatat pada hotel bintang 5 yaitu sebesar 19,06 poin, sementara dibandingkan bulan Desember 2021, penurunan terbesar tercatat pada hotel bintang 4 sebesar 11,23 persen.
BPS juga mencatat jumlah tingkat TPK di DKI Jakarta mengalami peningkatan pada hotel bintang lima dibandingkan kelas hotel lainnya yaitu sebesar 56,8 persen. Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Anggoro Dwitjahyono megatakan okupansi hotel bintang pada Januari 2022 mencapai 52,3 persen atau turun 6,5 persen poin dibandingkan Desember 2021. Namun, kondisi tersebut mengalami kenaikan 11,2 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“TPK hotel bintang pada awal 2022 mulai menunjukkan peningkatan meskipun belum pulih seperti kondisi normal pada tahun 2019,” ujar Anggoro.
Kemudian rata-rata menginap wisatawan asing dan lokal pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Januari 2022 mencapai 1,60 hari. Jumlah tersebut menurun 0,26 poin dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021. Secara umum, rata-rata lama menginap wisatawan asing lebih tinggi, yaitu sebesar 3,58 hari dibandingkan dengan rata-rata lama menginap tamu lokal sebesar 1,57 hari.
Adapun hotel bintang lima masih menjadi pilihan utama menginap bagi wisatawan asing sebanyak 41,4 persen, sementara wisatawan dari Indonesia lebih memilih menginap di hotel bintang tiga sebesar 38,8 persen.