Jakarta, Properti Indonesia - Pandemi telah mendorong penerapan model bekerja secara hybrid hingga bekerja dari jarak jauh. Colliers Indonesia mencatat, sebagian besar perusahaan telah mengurangi ukuran area perkantoran dan kemungkinan tidak akan mengembalikannya seperti semula dalam waktu dekat.
"Strategi kantor saat ini lebih terfokus pada bagaimana mengoptimalisasi ruang kantor,” ujar Ferry Salanto, Colliers Indonesia Head of Research dalam siaran pers, Rabu (28/6).
Menurutnya, hal ini menjadi sebuah cara bagi penyewa untuk mengimplementasikan tindakan penghematan biaya. Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang farmasi, forex, tekstil, logistik, media sosial, dan pertambangan menunjukan minat untuk mengakuisisi ruang kantor, meskipun ukurannya relatif kecil. Kecenderungan ini membuka harapan bahwa permintaan ruang kantor bisa kembali melalui perbaruan kontrak sewa, relokasi, ataupun ekspansi.
"Kebanyakan dari penyewa yang relokasi atau ekspansi lebih cenderung memilih ruang kantor yang sudah pre-fitted, baik itu sebagian ataupun menyeluruh, untuk meminimalisir pengeluaran modal. Perusahaan mencari transaksi sewa yang menguntungkan, seringkali dengan memperpanjang periode fit-out untuk memanfaatkan periode bebas sewa. Namun demikian, tren mengurangi ukuran area kerja akan tetap ada, termasuk sub-leasing dari ruang yang sebelumnya ditempati," jelas Ferry.
Dalam laporannya, Colliers mencatat ada beberapa proyek yang telah diselesaikan namun belum dibuka atau beroperasi. Sebagian besar proyek ini diperkirakan selesai pada tahun 2023. Di CBD Jakarta, terdapat penambahan kantor termasuk Menara Mori Jakarta, Rajawali Place (kompleks St. Regis), dan Autograph Tower (kompleks Thamrin Nine) yang secara kolektif menambah sekitar 264.000 m2 ruang kantor baru, sehingga total menjadi 7,3 juta m2 pada kuartal I 2023.
Untuk pasokan tambahan diperkirakan akan masuk menjelang akhir tahun 2023, dengan kontribusi dari proyek-proyek seperti Luminary Tower (Thamrin Nine) dan T Tower. Akibatnya, pasokan ruang kantor di CBD diproyeksi meningkat jadi 7,4 juta m2 pada akhir tahun 2023, meningkat 5 persen dibandingkan tahun 2022.
Sementara total pasokan ruang kantor di Non-CBD sebesar 3,82 juta m2 pada kuartal I 2023. Terdapat empat proyek yang diperkirakan selesai tahun ini sehingga menambahkan pasokan baru sekitar 115.000 m2. Secara keseluruhan, Jakarta akan memiliki sekitar 460.000 m2 total ruang kantor pada tahun 2023. Dengan volume pasokan yang begitu tinggi, kemungkinan besar pasar perkantoran Jakarta akan menghadapi tahun yang penuh tantangan lagi.
Dari sisi harga sewa kantor yang baru beroperasi, pada kuartal I 2023 memiliki harga sewa rata-rata Rp246.030 per m2 di CBD. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 3 persen dari kuartal keempat 2022. Kemudian permintaan sewa rata-rata untuk gedung grade A termasuk opsi premium tercatat sebesar Rp294.772, menandakan peningkatan sebesar 4 persen dari kuartal IV 2022. Sebaliknya dari gedung perkantoran grade B dan C terus menyesuaikan tarif sewa.
Untuk perkantoran Non-CBD, harga sewa rata-rata pada kuartal I 2023 sebesar Rp174.759, menunjukkan tren yang relatif stabil secara kuartal per kuartal (QoQ). Meski sisa tahun 2023 akan ada penyelesaian beberapa gedung perkantoran baru di kawasan ini, rata-rata sewa diperkirakan relatif konstan.