Suku Bunga KPR Berpotensi Naik, Permintaan Rumah Tapak Masih Tinggi

Suku Bunga KPR Berpotensi Naik, Permintaan Rumah Tapak Masih Tinggi
Citra Maja Raya (Dok. Ciputra Residence)

Jakarta, Properti Indonesia – Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 0,25 basis point (bps), dari sebelumnya sebesar 3,50 persen menjadi 3,75 persen. Naiknya suku bunga acuan ini turut memberikan dampak bagi berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor properti. 

 Dampak yang akan dirasakan sektor properti yakni adanya potensi kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Managing Director Ciputra Group, Budiarsa Sastraminata menyatakan, tingkat suku bunga KPR yang lebih tinggi akan berdampak pada konsumen kelas menengah ke bawah. Namun, permintaan akan rumah tapak juga masih cuku tinggi, sehingga jika ada kesempatan, individu masih ada keinginan dan kemampuan untuk membeli hunian.

“Karena demand itu riil, jadi mereka akan tetap mengupayakan untuk membeli bila ada kesempatan. Itu kalau lihat untuk yang menengah ke bawah, kalau menengah ke atas, kalau kenaikan suku bunganya relatif masih kecil mungkin mereka masih resilien juga,” ujar Budiarsa dalam Capital Market Summit & Expo (CMSE), Kamis (13/10).

Selain itu, berbagai bank saat ini telah melakukan penyesuaian suku bunga mengikuti acuan BI. Hal ini untuk membantu terjaganya permintaan. “Kami apresiasi sektor perbankan yang merspons positif bahwa skema pembayaran KPR juga dapat mendapat perhatian dari perbankan. Sehingga ini juga membuat pasar properti masih cukup positif,” jelasnya.

Lanjutnya, pemerintah juga telah memberikan beberapa kebijakan dan regulasi untuk mendorong kinerja sektor properti dan untuk konsumen di masa pandemi Covid-19. Seperti pelonggaran PPN DTP, kenaikan LTV, pelonggaran pencairan KPR, dan restrukturisasi pinjaman korporasi.

Budiarsa juga menyampaikan salah satu strategi ekonomi yang dapat dilakukan oleh developer properti. Salah satu strategi tersebut adalah dengan memperhatikan kemampuan daya beli konsumen, dengan menyediakan produk-produk terjangkau untuk semua segmen pasar.

“Supaya perusahaan tetap gedit dan fleksibel dalam menjalankan bisnis serta mampu masuk ke berbagai lokasi dan daerah,” imbuhnya.

Seperti pembangunan proyek Citra Maja Raya yang dilaksanakan dengan skala kota dan development area 2.600 hektar. Citra Maja Raya mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) dan fasilitas terpadu lainnya yang terhubung langsung dengan stasiun kereta api. Pemerintah juga akan menambahkan beberapa stasiun kereta api baru di kawasan Maja seiring dengan pertumbuhan. Hunian tapak yang dipasarkan juga memiliki harga terjangkau dengan menyasar pada kalangan menengah atau masyarakat berpenghasilan rendah.

 

Tags
#hunian #rumah #Berita Properti #KPR #bank indonesia #properti #Ciputra Group #Ciputra Development