Jakarta, Properti Indonesia – Harga rumah mewah diperkirakan akan naik sebesar 5,7 persen pada tahun 2022 di 28 kota di berbagai negara, berdasarkan laporan dari konsultan properti global Knight Frank. Meskipun harga rumah mewah di tahun ini melonjak dibanding tahun 2021, persentase tersebut lebih kecil dibandingkan harga rumah mewah sebelum pandemi.
Kota-kota seperti Dubai, Miami, dan Zurich diperkirakan akan memimpin kenaikan harga rumah mewah tertinggi, dengan harga yang melonjak sekitar 10% hingga 12% tahun ini. Sementara di Asia Pasifik seperti Seoul dan Sidney mengalami peningkatan sebesar 9 persen dan Auckland sebesar 7 persen.
Pada tahun 2021, indeks perumahan internasional Knight Frank Prime (PIRI 100) mencatatkan peningkatan terbesar dengan kenaikan 8,4 persen, naik dari sedikit di bawah 2 persen pada tahun sebelumnya. Indeks tersebut melacak 100 pasar perumahan mewah, dengan 35 persen di antaranya mengalami kenaikan harga 10 persen lebih tinggi pada 2021, dengan permintaan yang didorong oleh faktor-faktor seperti suku bunga rendah, kurangnya stok, gaji yang besar, peningkatan tabungan, kinerja pasar saham yang kuat, dan investor yang mencari lindung nilai dari inflasi.
“Dubai berada di posisi terdepan karena harga utama melonjak lebih dari 44 persen, sementara Rusia berada di urutan kedua lebih dari 42 persen dan San Diego 28,3 persen,” tulis dalam laporan Knight Frank, Selasa (1/3).
Sementara itu, harga perumahan mewah di Singapura sepanjang tahun lalu naik 3,5 persen. Akselerasi tajam mendorong pemerintah Singapura untuk membuat peraturan properti baru pada Desember 2021, yaitu dengan menaikkan bea materai untuk rumah kedua. Namun, Knight Frank memperkirakan hal tersebut tidak menghalangi pembeli untuk membeli rumah mewah.
“Meski tarif bea materai yang lebih tinggi bagi mereka yang membeli rumah kedua, tidak adanya pajak capital gain dan pajak kekayaan di negara kota itu akan terus menarik minat beli,” ungkap Knight Frank.