Sederet Pengembang Lokal yang Menjadi ‘Tuan Rumah’ di Negara Global

Sederet Pengembang Lokal yang Menjadi ‘Tuan Rumah’ di Negara Global
Gerbang Utama Ciputra Hanoi International City di Hanoi, Vietnam. (Dok Ciputra Group)

Sebelum pandemic COVID-19 hadir, sejumlah perusahaan domestik gencar melakukan ekspansi bisnisnya ke luar negeri, tak terkecuali pengembang properti dari Indonesia. Selain meningkatkan laba, aksi ekspansi ini menjadi upaya korporasi untuk melebarkan sayap bisnis perusahaan dengan target pasar baru di manca negara.  

 

Jakarta, Properti Indonesia - ERA globalisasi secara tak langsung telah menciptakan peluang besar bagi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia dalam mengembangkan masa depan bisnisnya di kancah global. Kemajuan dalam komunikasi dan transportasi, serta munculnya teknologi internet adalah beberapa faktor yang mendorong menguatnya aktivitas bisnis tersebut.

Bisa dimaklumi, jika dalam kondisi kekinian banyak perusahaan multinasional Indonesia yang rela melepaskan jangkar bisnisnya ke negara-negara lain, sekalipun harus melintasi benua yang berbeda. Tujuannya satu, meraup sebanyak-banyaknya potensi yang belum dimanfaatkan agar dapat dikonversikan menjadi keuntungan.

Kawasan ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, Singapura dan Thailand adalah beberapa negara yang saat ini menjadi sasaran investasi langsung investor Indonesia di luar negeri. Sementara di luar ASEAN, ada China, Australia, Inggris, Jerman, Amerika, serta beberapa negara Afrika dan Timur Tengah. Industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO), makanan, kertas, properti serta tekstil adalah beberapa industri yang paling banyak digarap.

Di industri properti, contohnya, ada Ciputra Group yang memekarkan proyeknya di beberapa negara asia, disusul Lippo group dan Sinar Mas Land. Meski hanya segelintir yang menjajal peruntungannya di “negeri orang”, beberapa pengembang properti asal Indonesia tersebut justru sukses menekuk atensi pasarnya di luar negeri. Grup Ciputra sukses mengembangkan kawasan superblok terbesar pertama di Vietnam dan Kamboja. Sementara Grup Sinar Mas Land sukses mengibarkan ribuan unit apartemen di China dan lapangan golf di Malaysia. Adapun, Grup Lippo berjaya dengan beberapa proyek perkantoran dan kondominiumnya.

Sebelum pandemic Covid-19, bisa dibilang, Inggris dan juga negara-negara di Eropa termasuk Amerika Serikat adalah magnet bagi banyak pengembang properti Asia yang berekspansi ke luar negeri. Trend ini kian tak terbendung, paska krisis global yang menggempur Eropa tahun 2013 lalu. Setiap hari, ratusan investor properti dari berbagai belahan dunia rela blusukan di sini, meski ceruk pasar yang tersedia sangatlah sempit.

Selain strategi melebarkan usaha, pasar investasi yang menjanjikan keuntungan lebih tinggi adalah daya pikat utama para investor properti di Eropa dan juga Amerika. “Peluang bisnis yang cukup baik dan juga strategi diversifikasi perusahaan menjadi alasan Sinar Mas Land (SML), berekspansi ke luar negeri,” sebut Ferdinand Sadeli, Executive Director sekaligus Chief Financial Officer (CFO) Sinar Mas Land (SML) kepada Properti Indonesia beberapa waktu lalu.

Eropa sendiri, bukan satu-satunya negara yang menjadi tujuan ekspansi SML di luar negeri. Sebab, peluang yang ditawarkan negara-negara di belahan Asia juga tak kalah menjanjikan. Di Singapura dan Malaysia, misalnya. Sejak sekitar dua dekade silam, pengembang BSD City ini sudah menancapkan kuku bisnisnya di negeri semenanjung Indonesia tersebut. Di Singapura, saat itu SML mengembangkan apartemen serta perkantoran dan ritel, Orchad Tower di Orchad Road yang kepemilikannya sebesar 21%.

Sedangkan di Malaysia, SML sukses mengembangkan Palm Resort Golf & Country Club di Johor, seluas 303 hektar. Kawasan ini sebelumnya terdiri atas 54 hole golf course dan Hotel Le Grendeur berkapasitas 330 kamar hotel bintang 4. Palm Resort Golf bahkan pernah tercatat sebagai padang golf terbesar di Johor.

Adapun di China, SML ketika itu sukses mengembangkan apartemen di Kota Chengdu dan Shenyang. Di dua kota industri ini, SML membangun 9 tower berkapasitas 2500 unit apartemen, dengan harga mulai dari 5000 – 5500 Yuan per sqm.

Setali tiga uang, Grup Ciputra adalah salah satu pengembang dalam negeri yang turut mendiversifikasikan usahanya ke luar negeri. Proyek Ciputra tersebar di Hanoi, Vietnam, Pnom Penh, Kamboja, Kolkata, India serta Shenyang di Tiongkok.

Di Hanoi, sejak tahun 2002, Ciputra telah mengembangkan proyek skala kota bertajuk Ciputra Hanoi International City. Grup Ciputra berkolaborasi dengan UDIC – Badan Usaha milik pemerintah Vietnam dengan membentuk perusahaan bersama bertajuk Citra Westlake City Development Co. Ltd.,  dimana Group Ciputra merupakan pemegang mayoritas.

Total luas pengembangannya adalah sekitar 300 hektar atau secara keseluruhan nantinya dapat mendukung sekitar 45 ribu warga. Sesuai masterplan, di kawasan ini nantinya akan dikembangkan beberapa sub sektor properti mencakup area residensial dan komersial terpadu modern. Group Ciputra berencana mengembangkan 1.304 rumah serta 47 tower yang merangkum sebanyak 8.817 unit apartemen mewah untuk area residensial.

Pada tahun 2018, setidaknya lebih 40% dari total luasan area tersebut telah dikembangkan menjadi 900 hunian menengah atas dan 16 tower yang menghimpun 2072 unit apartemen. Tak hanya pembangunannya,  pertumbuhan harga lahan di Ciputra Hanoi International City juga terbilang fantastis. Jika pada 2002 harga lahan yang ditawarkan untuk landed house mulai dari $US 900 dollar per meter persegi, maka pada tahun 2018 atau sebelum pandemi harga lahan sudah di atas $US 5000 dollar per meter persegi. Sementara untuk apartemen range yang ditawarkan di atas $US 1,800 dollar sampai di atas $US 2500 dollar per meter persegi.

Yang patut diapresiasi, Grup Ciputra, tercatat sebagai satu-satunya pengembang swasta asing yang menggarap new town atau kota baru di Kamboja dan Vietnam.

Menyusul Ciputra Hanoi International City, ada Kolkatta West International City yang berlokasi di Kolkatta. Proyek yang mulai digarap sejak 2006 tersebut dibangun di atas lahan seluas 260 hektar. Di ibukota West Bengal ini, Grup Ciputra mengembangkan residensial dan area komersial lengkap dengan fasilitasnya. Proyek ini belakangan dilepas ke pengusaha lokal yang tertarik setelah melihat launching perumahan pertama Kolkatta West International City berjalan sukses.

 Selang setahun, atau pada 2007, Grup Ciputra kembali mengembangkan Grand Pnom Penh International City di Kamboja. Proyek seluas 313 hektar ini juga dikembangkan sebagai kota baru layaknya di Vietnam. Dari total luas lahan itu, sekitar 30 persennya sudah dikembangkan. Adapun, Shenyang mulai dikembangkan pada 2011. Di ibukota Propinsi Liaoning, yang bersebelahan dengan Beijing tersebut, Grup Ciputra membangun Shenyang Grand International City.

Dikembangkan di atas lahan seluas 313 hektar, proyek terintegrasi ini nantinya akan merangkum 3.300 unit apartemen, 156 vila, 165 townhouse, resort hotel, serta padang golf dengan kapasitas 18 hole. Yang menarik, baik proyek Vietnam, Kamboja maupun Kolkatta, Grup Ciputra tetap mengadopsi konsep proyek Ciputra yang berada di Citra Raya, Tangerang, sementara Shenyang Grand International City mengadopsi kawasan Citraland Surabaya.

Selain Sinar Mas Land dan Ciputra Grup, pengembang dalam negeri yang telah menikmati gurihnya ekspansi di luar negeri adalah Grup Lippo. Lewat salah satu sayap usahanya, OUE Limited yang berbasis di Singapura, perusahaan milik Mochtar Riady ini menjelma sebagai salah satu pemain utama properti kelas dunia.

Portofolio OUE tersebar mulai dari Singapura, Malaysia, China, Thailand, Korea hingga Amerika Serikat. Antara lain, perkantoran OUE Bayfront, Marina Mandarin Singapore, Mandarin Orchard Singapore, area komersial OUE Downton, Crowne Plaza Changi Airport, Mandarin Gallery, pusat perbelanjaan One Raffles Place, serta Twin Peaks, yang masing-masing berlokasi di Singapura. Disusul, U.S Bank Tower di Amerika, Lippo Plaza di China, serta Meritus Pelangi Beach Resort & Spa di Malaysia.**

 

Tags
#Pengembang #Developer #properti #Lippo #Sinar Mas Land #Ciputra Group