Jakarta, Properti Indonesia – Sepanjang kuartal IV 2021, terdapat penambahan lahan industri seluas 42 hektar yang meningkatkan pasokan kumulatif, sehingga total menjadi 12.975 hektar dengan pertumbuhan 0,3 persen dari kuartal sebelumnya. Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea mengatakan dari segi distribusi pasokan tidak ada perubahan dari kuartal sebelumnya.
“Bekasi dan Karawang-Purwakarta masih memegang proporsi terbesar distribusi lahan industri di Jabodetabek sekitar 74 persen, area timur Jakarta adalah daerah yang paling diminati investor,” ujar Martin dalam keterangan tertulis, Kamis (3/2).
Menurut catatan Leads Property Services Indonesia, terdapat 37,6 hektar lahan yang terserap, sehingga total permintaan kumulatif pada kuartal IV 2021 menjadi sekitar 11.878 hektar, tumbuh 0,32 persen dari kuartal sebelumnya. Permintaan tersebut datang dari berbagai sektor, terutama data center yang menyerap hampir separuh dari total penyerapan lahan selama kuartal ini.
Permintaan lainnya datang dari otomotif, manufaktur, logistik, kimia, penunjang medis, peralatan industri, plastik, dan packaging. Hampir 90 persen penyerapan lahan berasal dari wilayah Karawang dan Bekasi, sedangkan sisanya tersebar di wilayah lain. Tingkat penjualan per Kuartal 4 2021 tercatat sebesar 91,6%, hanya turun sebesar 0,01 poin dari kuartal sebelumnya.
Harga tanah cenderung stagnan, yaitu sebesar Rp 2.762.000 per m2, dengan penurunan sebesar 0,61% dari kuartal sebelumnya. Harga tanah industri di Jakarta dan sekitarnya berada di kisaran Rp 2,7 – 2,8 juta per m2 sejak tahun 2020.
“Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang optimis di kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen untuk tahun 2022, kondisi ini mengimplikasikan bahwa secara relatif, kegiatan industri akan berjalan normal seperti sebelum pandemi. Setelah mengalami permintaan tahunan sebesar 170 Hektar selama 2021, sektor ini diperkirakan akan mencetak pertambahan permintaan tahunan sebesar 200 Hektar di tahun 2022 atau meningkat sekitar 20% untuk Kawasan Jabodetabek serta Karawang,” papar Martin.
Di era big data (data dengan kapasitas besar) dimana sektor IT dan E-Commerce melirik negara besar seperti Indonesia, para pemilik lahan industri tidak ingin kehilangan kesempatan yang akan datang dari sektor data center.
“Mereka akan tetap menawarkan harga lahan yang kompetitif sehingga kondisi harga lahan industri di tahun 2022 akan cenderung stabil kembali. Di samping itu, beberapa sektor tertentu seperti otomotif, manufaktur dan logistik akan juga tetap menjadi pendorong permintaan terhadap lahan industri,” jelas Martin.