Jakarta, Properti Indonesia - Pandemi berdampak negatif pada pertumbuhan properti selama dua tahun terakhir, terutama pada bisnis apartemen sewa di DKI Jakarta. Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengungkapkan, bisnis apartemen sewa pada semester II tahun 2021 cenderung stagnan. Hal ini terlihat dari jumlah unit yang disewakan tidak bertambah dan permintaan sewa yang tidak meningkat.
Termasuk tertahannya berbagai proses pembangunan diikuti berkurangnya kedatangan warga negara asing (WNA) yang biasanya mengisi unit apartemen sewa di ibu kota. Arus balik WNA ke negaranya dan kembali setelah repatriasi mewarnai fluktuasi performa sektor apartemen sewa.
“Secara umum tidak ada penambahan pasokan untuk apartemen sewa sehingga total pasokan masih di angka 8.919 unit, dengan tingkat hunian 58,4 persen atau menguat dari semester sebelumnya, namun masih melemah dari tahun lalu,” ujar Syarifah dalam webinar, Kamis (10/2).
Kemudian rata-rata penurunan harga terjadi di kisaran minus 1% hingga minus 12%. Ada sekitar 1.688 unit apartemen sewa baru atau future supply hingga tahun 2023, dengan 70 persen proyek tersebar di kawasan CBD.
“Serviced apartment masih menawarkan program staycation untuk menarik konsumen lokal dengan skema jangka pendek,” imbuhnya.
Adapun pasokan unit apartemen baru yang akan masuk ke pasar hingga tahun 2023 diperkirakan sebanyak 1.688 unit, dan 10 persen lainnya memilih menunda proses pembangunan. Lalu akan ada 7 proyek apartemen sewa yang akan masuk di tahun ini.
“Performa tahun ini seharusnya lebih baik dari tahun sebelumnya, proyek-proyek baru apartemen sewa yang siap masuk ke pasar akan memberikan continuous spirit dalam perbaikan performa sektor apartemen sewa,” jelas Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip.