Jakarta, Properti Indonesia – Sepanjang kuartal III 2021, pertumbuhan bisnis ritel atau pusat perbelanjaan masih terbatas karena dampak dari aturan pembatasan ketat yang diterapkan antara Juli sampai dengan Agustus 2021 lalu. Meskipun, sejak pertengahan Agustus sejumlah mal sudah diizinkan beroperasi kembali dengan kapasitas maksimal 50 persen namun sebagian besar tenant berbasis layanan seperti perawatan wajah, gym, taman bermain anak, sampai karaoke masih tutup. Demikian disampaikan lembaga konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) dalam laporannya bertajuk Riset pasar properti Jakarta Kuartal III 202.
“Tidak ada pusat perbelanjaan baru yang selesai dibangun pada kuartal III 2021. Pasokan baru telah terbatas dalam beberapa tahun terakhir karena moratorium tidak resmi pada pembangunan mal baru,” tulis JLL dalam research report, yang diterima Properti Indonesia, Selasa (16/11).
JLL mencatat, pasar sewa ritel di Jakarta masih terpantau stabil di kuartal III 2021. Meskipun beberapa pemilik masih memberikan bantuan sewa kepada penyewa, sebagai upaya strategi untuk mempertahankan okupansi mal. Namun beberapa pemilik juga telah mulai memberikan harga sewa normal.
“Ketika situasi Covid-19 dan ekonomi mulai membaik, kami memperkirakan kesepakatan leasing baru akan terjadi di masa mendatang karena lebih banyak penyewa terus mencari ruang untuk ekspansi. Dengan demikian, pertumbuhan sewa di tahun 2021 positif tetapi masih relatif datar serta asumsi aktivitas mulai membaik di akhir tahun,” jelas JLL.