Jakarta, Properti Indonesia – Mayoritas perusahaan di Asia Pasifik atau sebesar 70% bersedia membayar sewa perkantoran lebih mahal untuk bangunan gedung ramah lingkungan. Komitmen tersebut sejalan dengan pengembangan properti di kawasan Asia Pasifik dengan konsep berkelanjutan yang menargetkan emisi karbon 0% pada tahun 2025 mendatang.
Upaya dekarbonisasi properti regional juga mendorong 80% pengguna dari segmen perusahaan untuk memilih lokasi yang membantu mengurangi emisi karbon. Sementara 65% investor lebih fokus pada investasi bangunan yang ramah lingkungan.
Dikutip dari laporan JLL Asia Pasifik bertajuk “Sustainable Real Estate: From ambitions to actions”, berdasarkan survey terhadap lebih dari 550 pemimpin perusahaan properti menyebutkan, sekitar 90% perusahaan di Asia Pasifik menyatakan setuju bahwa dengan mengatasi emisi dari sektor properti sangat penting dalam mencapai target emisi karbon 0%. Hal tersebut menandakan era baru bagi portofolio sewa dan investasi di industri properti regional.
Bahkan mayoritas perusahaan yang menyewa gedung berkonsep ramah lingkungan telah membayar sewa mereka sebesar 7% hingga 10% dan memberikan tolok ukur untuk tren sewa berkelanjutan di masa depan.
“Bagi perusahaan yang beroperasi di Asia Pasifik, pengurangan jejak karbon berkaitan langsung dengan properti. Perusahaan akan semakin menuntut solusi properti yang melengkapi agenda berkelanjutan mereka. Hal ini akan mengarahkan investor untuk memperhatikan investasi yang lebih hijau dan mendorong transformasi properti menuju bangunan ramah lingkungan di masa depan,” ujar Chief Executive Officer JLL Asia Pacific Anthony Couse, yang dikutip pada Rabu (14/7). Selain itu, sebut Anthony, masyarakat saat ini juga cenderung beralih ke bangunan ramah lingkungan dalam upaya mengatasi resiko iklim.