Jakarta, Properti Indonesia – Pengembang properti Sunac China dikabarkan mengalami gagal bayar kupon obligasi luar negeri senilai US$750 juta atau sekitar Rp10,8 triliun. Dilansir dari laman Reuters, Kamis (12/5), perusahaan juga kesulitan untuk melunasi obligasi lainnya yang akan jatuh tempo sebesar US$29,5 juta pada obligasi Oktober 2023.
Berdasarkan sumber yang dikutip Reuters, Sunac sedang mempertimbangkan restrukturisasi utang luar negeri untuk memperpanjang pembayaran, dan mengajak entitas milik negara untuk melakukan investasi strategis di perusahaan. Namun, Sunac sendiri menolak berkomentar mengenai hal tersebut.
Kemudian dalam pengajuan ke bursa saham Hong Kong, Sunac telah memilih Houlihan Lokey sebagai penasihat keuangan, dan Sidley Austin sebagai penasihat hukum untuk mencari solusi meringankan masalah likuiditas perusahaan saat ini.
Sunac merupakan emiten properti terbesar keempat di antara pengembang China setelah China Evergrande Group, Kaisa Group, dan top seller Country Garden. Sektor properti di China telah dilanda keterpurukan setelah sejumlah perusahan properti mengalami gagal bayar pada kewajiban luar negeri. Di antaranya adalah China Evergrande Group dan Kaisa Group, serta Zhongliang Holdings yang menerbitkan obligasi baru untuk melunasi obligasi lama yang telah jatuh tempo.
Dalam pernyataan terpisah, Sunac mengatakan bahwa penjualan agregat Maret dan April 2022 anjlok sekitar 65 persen dari tahun 2021. Hal ini diakibatkan oleh pandemi Covid-19 di berbagai kota di negara tersebut, dan rencana pembiayaan kembali serta pelepasan aset yang tertunda.
Sunac mengonfirmasi telah melewatkan tenggat waktu pada Rabu (11/5) untuk membayar bunga sebesar US$29,5 juta atau Rp432 miliar pada obligasi Oktober 2023, yang seharusnya dilunasi pada April lalu. Selanjutnya, tenggat senilai US$75,3 juta atau Rp1,1 triliun yang jatuh tempo pada April nampak belum akan dibayar sebelum 30 hari.