Jakarta, Properti Indonesia - Bagi warga Jakarta, menyebut kawasan Kemang berkonotasi erat dengan simbol kemewahan. Selain dikelilingi rumah-rumah “gedong” dengan hamparan taman megah yang luas, kawasan yang terletak di selatan Jakarta ini juga sudah sejak lama identik sebagai tempat kongkow favoritnya para ekspatriat dan anak muda Jakarta. Tak heran, banyak orang menyebut Kemang sebagai daerah elit dan hedonis karena identik dengan keglamouran.
Perkembangan kawasan Kemang sendiri bermula sekitar tahun 70-an saat terjadi pembangunan perumahan secara besar-besaran di kawasan -yang saat ini dikenal dengan nama Jalan Kemang Dalam. Booming industri oil and gas yang menjadi salah satu daya tarik ekspatriat ke Indonesia, turut andil membuat bisnis properti, baik residensial dan komersial di Kemang berkembang pesat kala itu.
Hingga puncaknya, pada tahun 90an, Kemang menjelma sebagai salah satu lokasi favorit investasi properti di Jakarta. Satu hal yang menarik, meski bertransformasi dari masa ke masa, namun tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi pada Kemang sampai dengan sekarang.
Pada awal Maret 2020 lalu, Pemerintah mengonfirmasi kasus pertama virus corona di Indonesia. Sejak kejadian luar biasa tersebut, berbagai daerah mulai memberlakukan aturan pembatasan sosial, tak terkecuali kawasan Kemang.
Dengan adanya aturan ini, berbagai sektor usaha tetap diizinkan beroperasi, namun dengan pembatasan kapasitas serta penerapan berbagai prosedur kesehatan. Bagi kawasan hiburan dan komersial seperti Kemang, hal ini secara tidak langsung cukup membawa dampak negatif pada jebloknya okupansi pengunjung ke sejumlah resto dan bar hingga pada akhirnya tak sedikit yang memilih menutup sementara usahanya.
Dhani Isti Tantyo, Co-Founder dari Restaurant El Asador, tak menampik jika pandemi menjadi salah satu faktor utama terjadinya penurunan jumlah pengunjung ke kawasan Kemang dibanding sebelum pandemi. Meski hal tersebut menurutnya bukanlah satu-satunya faktor utama.
“Adanya pandemi memang menjadi salah satu alasan terjadinya penurunan okupansi, tapi jika mau jujur, trend baru hang out anak muda Jakarta yang sejak beberapa tahun terakhir mulai mengarah ke kawasan-kawasan bisnis seperti di SCBD dan Senopati adalah diantara faktor yang turut mempengaruhi traffic pengunjung ke Kemang, selain tentunya masalah macet dan banjir,” sebut Isti kepada Properti Indonesia di El Asador, Kamis Pekan lalu.
El Asador sendiri merupakan salah satu resto yang cukup populer di kalangan penggemar sajian daging BBQ ala Amerika Selatan, khususnya negara Uruguay. El Asador terbilang unik karena mengusung Parilla (panggangan besar dan terbuka) dan menggunakan kayu bakar sehingga memiliki aroma panggangan serta citarasa yang khas.
Kembali ke kawasan Kemang, Isti mengatakan, di awal-awal pandemi, resto yang dibuka sejak delapan tahun lalu tersebut sempat tutup sementara karena kebijakan PSBB.
“Masa-masa itu mungkin bisa dibilang yang paling pahit bagi semua pelaku usaha, karena memang kondisi yang tidak memungkinkan sehingga resto tidak boleh beroperasi. Namun, seiring berjalannya waktu masa-masa kurang mengenakkan tersebut berangsur membaik,” kenang Isti.
Lulusan Kedokteran dari Univesitas Indonesia yang juga cucu mantan Wakil Presiden RI Sudharmono ini mengaku jika daya beli dan aktivitas masyarakat di kawasan Kemang saat ini masih cukup tinggi, khususnya di hari-hari tertentu, seperti akhir pekan serta liburan.

Dhani Isti Tantyo, Co-Founder Resto El Asador Kemang, Jakarta
“Trafiknya memang tidak lagi se-trendi dan seramai dulu tapi daya beli di Kemang masih sangat bagus,” ujar Isti yang telah membuka usaha restonya di Kemang sejak delapan tahun lalu.
Salah satu strategi yang dilakukan Isti di masa pandemi adalah dengan menawarkan layanan Home Service. Melalui layanan tersebut, para konsumen nantinya dapat mengorder makanan yang mereka beli melalui online dan selanjutnya disajikan langsung oleh chef El Asador di rumah.
“Sampai saat ini layanan tersebut on demand banget karena selain makanan, servisnya benar-benar di bawa langsung ke rumah customer mulai dari gelas, mangkok, piring, alat makan hingga table mat,” ungkap Isti.
Kawasan menjanjikan
Sementara itu, Senior Marketing Ray White Kebayoran Baru, Lisca Zafarayana mengatakan, sejak pandemi melanda pada 2020 lalu, pertumbuhan bisnis di kawasan Kemang sempat drop hingga 80%. Hal ini dikarenakan banyak pengunjung yang masih khawatir untuk nongkrong berlama-lama di resto maupun café (dine in). “Kondisi Kemang saat pandemi sangat drop karena tingkat kunjungan yang sepi dan pengunjung lebih memilih untuk berbelanja secara daring,” ujar Lisca.
Menurutnya, pandemi juga membuat pertumbuhan harga properti, khususnya pasar sewa sangat terkoreksi di Kemang. Jika sebelum pandemi harga yang dibanderol kisaran Rp500 juta sampai dengan Rp1 miliar per tahun, maka saat ini kisaran Rp500 juta sampai Rp800 juta.
Harga ini pun, sebutnya, hanya untuk Kemang di wilayah tertentu seperti Kemang utara, timur maupun selatan karena bebas banjir. “Sementara, untuk Kemang Raya penurunan yang terjadi bahkan lebih besar karena kerap dilanda banjir saat musim penghujan tiba,” pungkas Lisca.
Tak hanya itu, para sosialita yang sebelumnya memilih hang out di Kemang, kini sebagian besar mulai bergeser ke kawasan Gunawarman di Jakarta Selatan. Hal ini karena kawasan tersebut menawarkan resto dan café yang lebih highend dan prestise. “Selain Kemang, nasib serupa sebenarnya juga terjadi pada kawasan Kebayoran Baru. Beberapa resto kelas atas memilih menutup operasionalnya selama pandemi,” jelas Lisca.
Meski gaungnya tidak lagi senyaring beberapa dekade silam, namun, Kemang adalah Kemang. Ia tetap setia pada karakternya yang agresif, fenomenal, dan selalu menjanjikan sebagai pusat bisnis yang prestisius. “Terlepas berbagai hal yang terjadi, ke depannya Kemang tetap merupakan salah satu kawasan paling potensial di Jakarta dengan segala kelebihan yang dimilikinya,” ungkap Lisca optimis.