Jakarta, Properti Indonesia – Aspek keberlanjutan (sustainability) dan penggunaan material yang ramah lingkungan dewasa ini menjadi perhatian para pengembang properti. Banyak developer maupun desainer interior di Indonesia lebih menyukai penggunaan bahan material ramah lingkungan sebagai dukungan dari konsep pembangunan keberlanjutan.
PT Tanjung Kreasi Parquet Industry (TEKA), produsen kayu di Indonesia, bersama tiga desainer interior yakni Eko Priharseno, Anita Boentarman dan Agam Riadi mengulas tentang pemanfaatan lantai kayu yang sustainable dalam aplikasi desain.
Eko Priharseno mengatakan, menekankan aspek berkelanjutan yang menjadi kebutuhan masyarakat di era modern, tidak terkecuali di dunia interior. Menurutnya, konsumen saat ini mulai mengarah ke penggunaan bahan bangunan maupun material interior yang lebih ramah lingkungan.
“Saya kira ini sudah menjadi trend global sehingga arahnya memang mulai ke sana. Saya sendiri sering mengedukasi klien saya maupun kalangan pengguna bahwa material finishing yang saya gunakan adalah yang ramah lingkungan atau memperhatikan aspek sustainability. Biasanya mereka senang dengan hal ini,” ujar Eko dalam Talkshow Sustainable Teka Parquet, Application and Utilization in Design Process, Pameran The Colour of Indonesia, Sabtu (24/9).
Eko merupakan desainer interior yang berkolaborasi dengan TEKA. Lanjutnya, kerja sama dengan TEKA selama ini juga didasari sengan kualitas produk yang environtmental friendly. Selain itu, motif maupun produk TEKA juga mudah diaplikasikan untuk desain interior.
Anita Boentarman juga mengungkapkan bahwa kliennya lebih suka dengan bahan-bahan finishing untuk desain rumah dengan bahan lingkungan karena trendnya memang sudah mengarah ke sana.
“Jadi memang waktu memilih bahan-bahan finishing, apakah itu parquet dan bahan finishing lainnya, akan memikirkan apakah ini anti bakteri atau ramah lingkungan. Saya melihat TEKA punya itu semua, karena selain bahan baku kayunya sudah tersertifikasi dan berasal dari alam, produknya juga sudah memenuhi standar sertifikasi global. Selain itu, saya sendiri sebagai desainer sangat concern dengan sustainability, karena kecenderungan saya yang healthy lifestyle juga, “ jelas Anita.
Agam Riadi juga menjelaskan bahwa saat ini tren interior desain lebih mengarah ke konsep pembangunan berkelanjutan, meskipun di Indonesia belum banyak yang concern terhadap hal ini.
Sustainability Engagement Head PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN Group), induk perusahaan TEKA, Teguh Triono, menyampaikan bahwa produk-produk yang dihasilkan seperti dalam pembuatan flooring TEKA selalu memperhatikan hal-hal antara lain seperti hutan, iklim dan masyarakat. Contoh hal-hal yang dilakukan untuk melengkapi kualitas produk antara lain sertifikasi produk, penggantian energi proses dengan energi terbarukan dan pemanfaatan limbah.
“Intinya produk yang dihasilkan TEKA sudah melalui proses yang peduli dengan dampak lingkungan sehingga menciptakan produk-produk yang berkelanjutan di sektor kayu, di mana memiliki semua produk panel maupun flooring yang sudah tersertifikasi oleh sertifikasi sustainability seperti CARB, FSC, PEFC, JAS, CE,” imbuh Teguh.
Sebagai informasi, produk engineered floorings merek TEKA telah dikenal lebih dari 44 negara. Adapun pabrik TEKA berlokasi di Temanggung, Jawa Tengah, di atas lahan seluas 17 hektar.
Selain itu, untuk memperluas pasar domestik, TEKA membuka TEKA Wood Flooring Gallery di Alam Sutera. Ke depannya, TEKA berharap dapat melakukan kolaborasi lebih lanjur dengan para seniman interior dan properti nasional untuk berkolaborasi mempublikasikan produk kayu TEKA.
Teka melihat bahwa lantai kayu bukan hanya sebuah produk melainkan sebuah produksi bernilai unik dari setiap pohon yang bisa membawa keindahan dari suatu ruangan.