Jakarta, Properti Indonesia – Jaringan ritel asal China, Miniso Group Holding Ltd meminta maaf karena menyebut dirinya sebagai merek Jepang dan mengumumkan akan rebranding dengan mengubah nama dan logonya di lebih dari 1.900 unit gerai termasuk di luar negeri pada akhir Maret 2023. Hal ini dikarenakan perusahaan ini dianggap menipu konsumen yang menganggap gerai ini merupakan produk dari Jepang.
Dilansir dari laman Japan Times, Rabu (24/8), Miniso merupakan perusahaan yang berbasis di Guangzhou, China, dan telah lama mempromosikan dirinya sebagai perusahaan yang dipengaruhi oleh gaya Jepang. Dapat dilihat dari berbagai produknya seperti tas belanja dengan beberapa karakter Jepang, serta bahasa pemasaran Miniso yang sering memakai bahasa Jepang.
Saat ini Miniso telah membuka lebih dari 5.000 toko di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kritikan bermula dari salah satu netizen asal China yang melihat akun Instagram Miniso Spanyol mengunggah gambar boneka yang mirip dengan boneka geisha dari Jepang. Namun, sebenarnya boneka tersebut mengenakan gaun qipao yang merupakan pakaian tradisional China, bukan kimono. Sehingga perusahaan meminta maaf melalui akun sosial media Weibo pada Kamis (18/8) lalu.
“Kami menggunakan positioning merk dan kampanye yang salah selama hari-hari awal. Kami merasa menyesal dan bersalah. Kami akan secara ketat memerika konten dan melakukan pekerjaan yang baik dari ekspor budaya dan nilai-nilai Tiongkok,” tulis Miniso.
Adapun pada tahun 2015 hingga 2018, Miniso mempekerjakan desainer asal Jepang, Miyake Junya sebagai head designer, sehingga desain produk Miniso terlihat bergaya Jepang. Hal ini disebut bahwa Miniso memanfaatkan popularitas rantai Jepang untuk memikat pembeli lokal. Kemudian pada tahun 2019, ketika perusahaan akan masuk ke pasar AS, telah menghapus nama Junya dan mengganti desain produknya dengan lokal China serta hanya mencantumkan nama Ye Guofu sebagai pendiri.
Sebagai informasi, Miniso juga pernah terlibat dalam 68 tuntutan hukum, dengan lebih dari 40 kasus yang melibatkan pelanggaran hak cipta. Pada tahun 2016, outlet Hong Kong melaporkan bahwa beberapa desainer Nordik terkenal ditampilkan di situs web Miniso tanpa persetujuan dari mereka. Setidaknya ada dua seniman Hong Kong juga menuduh perusahaan ini memakai karyanya tanpa izin.