Jakarta, Properti Indonesia – Berbagai ketidakpastian yang muncul akibat pandemi berdampak pada sektor properti, khususnya sistem operasional perkantoran. Salah satunya tren atau kebutuhan yang bergeser, atau berubah akibat perkembangan pasar saat ini.
Head of Facilities Management Colliers Indonesia, Christina Ng, menyatakan bahwa setelah beberapa waktu, banyak perusahaan yang telah menerapkan sistem work from home (WFH), tetapi juga memberikan pilihan kepada karyawan untuk work from office (WFO) atas dasar kesukarelaan.
Saat ini, perusahaan mulai menerapkan sistem return to office (RTO), sehingga terdapat kewajiban bagi para pekerja untuk kembali bekerja dari kantor. Namun, dengan memberlakukan aturan-aturan tertentu, yaitu disebut dengan konsep hybrid working.
“Oleh karena itu, konsep hybrid working mulai diberlakukan secara luas oleh berbagai perusahaan,” ujar Christina dalam laporan Colliers mengenai Implikasi Hybrid Working dalam Pengelolaan Gedung Kantor dan Ruang Kerja, Kamis (3/2).
Hybrid Working merupakan kombinasi dari bekerja di kantor dengan bekerja dari mana saja termasuk dari rumah. Lanjut Christina, ada beberapa manfaat dari konsep hybrid working. Di antaranya keseimbangan kehidupan dan kerja, engagement karyawan, serta karyawan yang ngin fokus menyelesaikan tugas dapat memilih utuk WFH.
“Tetapi demi mejaga kesehatan mental, karyawan dapat memilih untuk WFO, sebagai contoh, keluar dari zona nyaman mereka dan kembali berinteraksi dengan berbagai pihak,” imbuhnya.
Selain itu, manfaat juga berdampak pada gedung dan perusahaan. Dengan diterapkannya konsep hybrid, kebutuhan akan ruang kantor akan berkurang, sehingga mempengaruhi konsumsi energi dan biaya lainnya. Efisiensi dari hal tersebut dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih berkualitas untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Sementara dampak terhadap gedung terletak pada kebutuhan dan penggunaan utilitas bangunan, yang seharusnya menyesuaikan dengan peningkatan dan penurunan beban hunian agar dapat mencapai efisiensi operasional.
Pengurangan kebutuhan ruang kantor akan mempengaruhi konsumsi energi pada gedung, dan beberapa kendala kemungkinan yang sering dialami dalam penggunaan Heating Ventilation and Air Conditioner (HVAC) system.
Secara umum, divisi Facility Management harus adaptif dalam merespon dalam merespon dinamika yang ada, seperti memastikan protokol yang diterapkan sejalan dengan regulasi terbaru dari pemerintah. Kemudian menerapkan teknologi yang dapat mendukung standar ruang kerja yang baik.
Sedangkan bagi pengelolaan gedung, penting untuk menerapkan sistem teknologi baik bertahap maupun secara komprehensif untuk memberikan solusi efektif terhadap kinerja properti dari segi manajemen biaya. Kemudian aspek kesehatan juga diperhatikan sehingga properti yang menawarkan solusi yang lebih baik akan memiliki lebih banyak peluang dan keunggulan kompetitif di pasar.