Jakarta, Properti Indonesia – Kebijakan hybrid working seperti bekerja dari rumah (work from home) dan bekerja di kantor (work from office) sudah umum diterapkan dalam dua tahun terakhir, sehingga membuat kebutuhan ruang kantor jadi lebih ringkas dengan berfokus pada kolaborasi. Berdasarkan pengamatan konsultan properti Colliers Indonesia, perusahaan sekarang lebih memilih untuk mengurangi area kantor antara 10% hingga 40% ketika memperbarui atau merestrukturisasi kontrak sewa.
Tak hanya itu, perusahaan pada umumnya juga tidak lagi menganggap relokasi ke gedung baru sebagai resiko besar bagi bisnis mereka. Perusahaan dapat memanfaatkan tenant market saat ini dengan mengamankan tarif sewa yang kompetitif. Landlords menjadi lebih akomodatif, bahkan menawarkan insentif seperti tunjangan fit-out atau renovasi penyewa sebagai bagian dari kesepakatan kontrak sewa.
“Perusahaan yang berpikiran ke depan merintis sistem bekerja dari mana saja, serta konsep menjaga jarak telah menyebabkan lebih banyak perusahaan tradisional bergerak mengadopsi strategi kerja jarak jauh parsial atau model hybrid. Hal tersebut menyajikan cara-cara baru untuk mengatur alur kerja dan interaksi di antara karyawan,” ungkap Hendry Sugianto, Head of Project Management Colliers Indonesia dalam siaran pers, Kamis (17/2).
Ketersediaan ruang yang terbatas dengan prioritas bersaing, berkonsultasi dengan spesialis strategi tempat kerja (workplace strategy specialist) dapat dilakukan untuk memastikan alur kerja, berbagai fungsi dan protokol keselamatan dapat terintegrasi dengan baik.
Adapun perubahan yang terlihat dalam desain fit-out ruang kantor saat ini adalah pengurangan jejak ruang kerja sebanyak 25 hingga 40 persen, berkurangnya kantor pribadi dan bertambahnya area kerja terbuka, berkurangnya meja kerja dan meja kerja bersama bertambah. Kemudian mendorong bertambahnya komunikasi untuk diskusi, seperti hadirnya ruang kolaborasi atau ruang pertemuan kecil terbuka tersebar di seluruh departemen dalam kantor yang sama. Serta ruang pertemuan gabungan multi-fungsi untuk pertemuan townhall atau pelatihan.
Lanjut Hendry, perusahaan juga cenderung memperketat pengeluaran untuk fit-out kantor. Beberapa kendala yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan pembuatan kantor baru yakni biaya dan waktu.
“Ketika relokasi atau renovasi merupakan pengeluaran yang tak terelakkan, anggaran fit-out sudah tidak sama seperti sebelum pandemi bagi sebagian besar perusahaan. Kita akan menemukan occupiers yang mencoba untuk mengubah capex dari fit-out baru ke opex, di mana biaya fit-out termasuk ke dalam kontrak sewa dan tersebar selama periode sewa,” jelas Hendry.