Jakarta, Properti Indonesia - Konsultan Properti Jones Lang LaSalle (JLL) dalam laporannya bertajuk Singapore Property Market Monitor 2021, merangkum perkembangan pasar properti di Singapura selama kuartal I-2021. Di sektor perkantoran, Singapura mengalami peningkatan permintaan ruang kantor meski belum merata.
Meski begitu, peningkatan ini tidak merujuk pada pasar sewa kantor di kawasan CBD karena mengalami penurunan pada kuartal I-2021. Adapun tingkat ketersediaan ruang kantor di CBD Singapura saat ini mencapai 2,98 juta m2.
Pencabutan kebijakan bekerja dari rumah dan pembatasan pada kapasitas tempat kerja pada 5 April 2021 lalu, dinilai dapat menghidupkan kembali permintaan kantor dan membuka jalan bagi penyewaan kantor di kuartal kedua tahun ini.
Hunian di Singapura
Penjualan hunian di Singapura mengalami peningkatan pada kuartal I 2021, meskipun peluncuran proyek baru masih sedikit dan mengalami perlambatan pada Tahun Baru Imlek 2021. Sementara itu stok hunian utama pada kuartal ini akan bertambah sekitar 59 ribu unit. Kontribusi peningkatan penjualan berasal dari sentimen pasar yang membaik.
Bisnis ritel
Sementara itu, penurunan penjualan ritel mulai mereda di Singapura. Selama dua bulan pertama kuartal I 2021, indeks penjualan ritel (tidak termasuk kendaraan bermotor) hanya turun 1,4% (yoy) apabila dibandingkan pada periode yang sama tahun 2020 mengalami penurunan 6,4% (yoy). Pengeluaran Tahun Baru Imlek pada Februari lalu menjadi penopang penjualan untuk soft retail yang dibatasi karena pembatasan operasional dan rendahnya kedatangan pengunjung.
Pemilik ritel pun perlu koordinasi dengan penyewa ritel soal harga sewa untuk mendukung tingkat hunian, mengingat tingkat kekosongan pada ruang ritel masih relatif tinggi. JLL juga menjelaskan dengan adanya penanggulangan penyebaran virus Covid-19 dengan vaksinasi, diiringi dengan selesainya work from home, dan pelonggaran wilayah secara bertahap akan mengangkat sentimen dari penyewa ritel dan konsumen. Sehingga hal tersebut bisa mendorong penjualan ritel dan ekspansi bisnis. Karenanya, JLL memprediksi tingkat kekosongan baru dapat turun pada akhir tahun 2021 mendatang.