Jakarta, Properti Indonesia – Pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta tengah memasuki periode konsolidasi yang panjang.
Laporan terbaru dari Leads Property Services Indonesia menunjukkan bahwa sepanjang kuartal IV-2025, tidak ada penambahan proyek gedung kantor baru di area ini. Kondisi tersebut menyebabkan total pasokan kumulatif tertahan di angka 7,45 juta meter persegi.
Leads Property Services Indonesia, dalam laporannya menyebutkan bahwa absennya pasokan baru ini diprediksi akan bertahan hingga tahun 2028.
Fenomena ini memberikan kesempatan bagi pemilik gedung (landlord) untuk secara bertahap menyerap permintaan yang ada sembari tetap menawarkan harga sewa yang kompetitif di tengah kondisi pasar yang masih didominasi oleh penyewa (tenant market).
Sepanjang tiga bulan terakhir di tahun 2025, permintaan ruang kantor di CBD tercatat mencapai 21.123 meter persegi. Serapan ini didorong oleh sektor-sektor seperti teknologi informasi (IT), keuangan, dan manufaktur. Menariknya, terjadi tren flight-to-quality, di mana perusahaan-perusahaan cenderung berpindah ke gedung dengan kualitas lebih baik dan lokasi yang lebih strategis.
Meskipun koridor Jenderal Sudirman dan SCBD masih menjadi primadona, koridor Kuningan mulai dilirik oleh korporasi asal Tiongkok. "Perusahaan Tiongkok menunjukkan minat yang meningkat di Kuningan, khususnya Rasuna Said dan Mega Kuningan, karena harga sewa yang lebih terjangkau serta kedekatannya dengan Kedutaan Besar Tiongkok," tulis laporan tersebut.
Kondisi pasokan yang stabil dan permintaan yang konsisten mendorong tingkat hunian atau okupansi naik tipis menjadi 73,3 persen, meningkat 0,28 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, rata-rata harga sewa kotor (gross rent) berada di angka Rp338.280 per meter persegi per bulan, naik tipis 0,49 persen secara kuartalan.
"Bagi pemilik gedung, menjaga fleksibilitas dan daya saing harga tetap menjadi kunci utama untuk meningkatkan tingkat hunian di masa mendatang," tulis Leads.