Menilik Kinerja Sektor Properti DKI Jakarta Q-1 2021

Menilik Kinerja Sektor Properti DKI Jakarta Q-1 2021
Ilustrasi Aeon Mall Tanjung Barat (southgate residence)

Jakarta, Properti Indonesia – Sektor properti mengalami penurunan kinerja akibat pandemi Covid-19 dan kondisi tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Namun sektor ini masih bisa bertahan karena adanya dukungan yang cukup masif dari pemerintah, diantaranya kebijakan LTV dengan DP 0%, keringanan pajak PPN dan lainnya.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan dalam paparan virtual, Rabu (7/4), bahwa kebijakan dari pemerintah tersebut masih belum terasa karena baru berjalan beberapa bulan. Sektor properti diprediksi akan recovery meskipun tergantung dari implementasi bagaimana penanganan pandemi bisa diselesaikan dengan cepat.

Colliers Indonesia mencatat, kinerjasejumlah sub sektor properti di DKI Jakarta sepanjang kuartal I 2021 mulai menunjukkan perbaikan meski belum secara signifikan. 

Kinerja Perkantoran

Pada kuartal I 2021 tercatat jumlah pasok perkantoran secara kumulatif pada kawasan CBD mencapai 7,09 juta m2 sementara di tahun 2020 hanya 6,8 juta m2. Kemudian ada beberapa kantor yang mulai beroperasi, diantaranya Menara Binakarsa dan Menara Tendean (M Ten).

Colliers memprediksikan pasokan pekantoran di CBD akan mencapai 7 juta m2 di akhir tahun, sementara proyek yang masih dibangun akan selesai pada 2021 hingga 2022. Kemudian Jakarta Selatan akan menjadi wilayah yang paling diminati pengembang, karena 60% dari total pasok akan datang di luar CBD terletak di wilayah ini.

Untuk harga sewa saat ini masih tertekan karena sentimen pasar masih rendah dan tingginya ruang kosong akibat WFH. Tarif sewa di CBD tercatat Rp255.185 per sqm, turun 1% (QoQ) dan di luar CBD tercatat Rp181.287 per sqm turun 5% (QoQ).

Sementara itu tingkat hunian perkantoran di CBD cenderung stabil dari penyewa yang beroperasi pada 2019-2020 sekitar 80% dalam enam bulan terakhir, dan di luar CBD tercatat 79,7% atau turun 1% (QoQ). Kondisi pandemi membuat kegiatan bisnis melambat dan memberi tekanan pada beberapa penyewa, akhirnya berimplikasi pada penurunan tingkat hunian.

Tahun ini co-working space akan menjadi tren namun dengan adaptasi remote working akan menekan tingkat hunian. Kemudian kantor pusat dan kantor satelit bisa jadi pilihan oleh banyak perusahaan di Indonesia.

Kinerja Apartemen

Pada subsektor apartemen di Jakarta, tercatat belum ada proyek yang diserah terimakan pada kuartal I 2021, sementara total pasokan saat ini sebanyak 215 ribu unit. Meski begitu ada empat proyek baru yang diperkenalkan, dua diantaranya sudah tahap launching. Antara lain Apple Residence, The Veranda @ Lebak Bulus, dan B-Residence Grogol. Colliers mencatat ada beberapa proyek yang dihentikan sementara pembangunan dan penjualannya.

Pada apartemen strata terjadi penurunan tingkat serapan menjadi 87,1% dan penjualan hanya mencapai 420 unit dibanding kuartal lalu, dengan rata-rata harga jual sekitar Rp35 juta per m2. Beberapa proyek akan diserahterimakan pada kuartal II dan kuartal III tahun ini untuk mengejar keuntungan dari insentif PPN.

Sementara apartemen servis tingkat huniannya cukup stabil di level 56,4% dan beberapa proyek di area CBD harga sewanya menurun. Meskipun mulai terlihat adanya pemulihan, permintaaan tetap terbatas tahun ini. sehingga para pemilik unit yang disewakan masih fleksibel dan terbuka untuk negosiasi harga.

Kinerja Ritel

Pada kuartal I 2021 tercatat tidak ada tambahan mal baru di Jakarta maupun di luar Jakarta. Total pasok ruang ritel hanya sekitar 4,83 juta m2, dan beberapa pengelola masih menunggu saat yang tepat untuk mengoperasikan mall. Kemudian ada mall baru yang akan dibuka tahun ini diantaranya AEON Mall Tanjung Barat, Pondok Indah Mall 3, dan Lippo Mall East Side (Holland Village).

Tingkat hunian mall di Jakarta sendiri mencapai 73,1% atau turun sekitar 6% secara tahuan, dan kunjungan mall juga baru mencapai 30%-40% dibandingkan waktu normal. Sedangkan tarif sewa di Jakarta masih stabil sekitar Rp545.079 per sqm, dan diproyeksi akan mengalami sedikit kenaikan akibat mulai beroperasinya salah satu mall kelas atas. Serta beberapa pengelola ada yang mengubah skema pembayaran sewa yang flat menjadi profit sharing.

Kinerja hotel

Tingkat keterisian hotel di Jakarta pada kuartal I 2021 perlahan mulai naik yakni meningkat dari tahun 2020 dengan tingkat level hunian mendekat normal pada level 50%,  dan kunjungan didominasi oleh event-event (MICE) yang digelar pemerintah dan korporasi, serta free & independent traveller (FIT).

Kemudian vaksin yang sudah dimulai diharapkan kegiatan bisnis di Jakarta akan kembali seperti semula, dan adanya larangan mudik bisa menjadi peluang bagi hotelier menarik tamu untuk staycation.

Kinerja industri

Pada kuartal I 2021, serapan lahan industri di Jakarta sangat kecil namun masih kesimpulan sementara karena masih menghitung beberapa kawasan. Sementara penyerapan paling banyak tertinggi terjadi pada tahun 2011 lalu sekitar 1200 hektar. Untuk penjualan selama kuartal ini paling banyak didominasi oleh kawasan industri Modern Cikande.

Kemudian dari segi harga pada tahun 2020 sudah terkoreksi sebesar 4,1% dan hingga kuartal ini tidak mengalami perubahan. Landlord masih akan menerapkan kebijakan insentif harga dengan cara pembayaran untuk menggenjot kinerja penjualan.

Pengelola kawasan harus berfokus pada kenaikan tren penyerapan di sektor berbasis teknologi, baik data center, e-commerce, e-vehicle, dan lainnya yang akan memicu kebutuhan untuk high tech specification SFB maupun pergudangan untuk pusat distribusi atau penyimpanan.

Tags
#Industri #Hotel #apartemen #Berita Properti #properti #ritel #colliers indonesia