Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan manajemen investasi dan layanan profesional Colliers dalam laporan terbarunya, Asia Pacific Market Snapshot Q3 2022, menyebutkan bahwa sebagian besar pasar real estat di kawasan Asia Pasifik pada kuartal ketiga tahun ini terus membaik, meskipun kehilangan beberapa momentum pertumbuhan dalam menghadapi kondisi ekonomi makro yang sulit yang ditandai dengan inflasi tinggi serta kenaikan suku bunga.
Direktur Global Capital Markets Colliers, Chris Pilgrim mengatakan masih ada peluang investasi jangka panjang di seluruh Asia Pasifik. Meskipun sebagian besar investor masih pasif, namun perubahan kondisi pasar dapat menciptakan cara baru bagi investor untuk memanfaatkan, terutama pembeli swasta yang dapat menawar aset dengan persaingan sisi beli yang terbatas.
“Menuju kuartal keempat kami juga berharap investor dapat menemukan investasi di Asia yang relatif lebih terlindungi dari kenaikan suku bunga yang berkelanjutan, dibandingkan dengan pasar Eropa dan Amerika Utara,” ujar Chris dalam keterangannya, dikutip Senin (21/11).
Colliers Indonesia Head of Capital Markets & Investment Services, Steve Atherton juga menyampaikan saat ini investor masih lebih berhati-hati dan menunggu waktu yang tepat untuk investasi. Sementara pengembang yang ingin meneruskan kenaikan biaya konstruksi dan pinjaman kepada konsumen dapat mengurangi pasar properti.
“Kami tidak melihat kenaikan harga yang signifikan dalam jangka pendek,” imbuh Steve.
Berdasarkan laporan Colliers, properti di Australia mulai pulih terutama di sektor perkantoran. Di Melbourne tercatat transaksi senilai lebih dari USD1 miliar, sementara di Sidney terdapat kesepakatan senilai USD420 juta sedang diselesaikan. Diperkirakan transaksi akan meningkat di kuartal IV 2022 dan seterusnya. Di Selandia Baru, investor akan memperluas opsi mereka karena harga aset menyesuaikan dengan pasar yang dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga dan berakhirnya pembatasan Covid-19.
Kemudian transaksi di sebagian kota-kota besar di China didominasi oleh segmen perkantoran. Seperti di Beijing, aset kantor menyumbang 84 persen dari hampir USD577 juta, dan diharapkan nilai tambah dan peluang investasi kantor di pusat ibu kota akan menarik investor domestik dan asing.
Selanjutnya, pasar real estat di India tercatat terjadinya peningkatan penyerapan di segmen perumahan, kantor dan logistik. Permintaan akan perumahan tetap bertahan meskipun suku bunga meningkat, sementara penghuni kantor memperluas jejak mereka, dan mengeksplorasi opsi ruang yang fleksibel dan terkelola.
Sektor industri di Hong Kong juga melonjak, dengan terdapat 25 transaksi senilai USD4,38 miliar, meningkat 93 persen kuartal per kuartal (QoQ). Colliers memperkirakan ini akan meningkat di kuartal keempat, karena ekspetasi bahwa Hong Kong yang terus menawarkan banyak peluang bagi investor domestik maupun global.
Momentum kuat yang dicapai pada paruh pertama tahun ini tertahan oleh inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga, namun volume investasi mencapai total investasi sebesar USD16,7 miliar tahun ini. Pelaku pasar akan menilai kembali portofolio mereka di tengah ketidakpastian, memicu periode penemuan dan penetapan harga kembali, serta permintaan yang lebih tinggi untuk aset berkualitas tinggi dan tahan inflasi. Begitu ancaman inflasi berkurang, dan tingkat suku bunga naik, investor akan kembali beralih ke Singapura untuk mendapatkan peluang, terutama di segmen komersial, perkantoran, dan logistik.
Aset kantor di Seoul, Korea Selatan juga terus mendorong investasi dengan volume transaksi mencapai USD2,2 miliar di kuartal ketiga meskipun lingkungan makro menghambat pembiayaan.
Sementara di Jepang, Yen yang melemah membantu transaksi lintas batas, meskipun kenaikan harga menekan permintaan dan perlambatan pemulihan pasar yang telah dimulai awal tahun. Ke depannya, suku bunga rendah Bank of Japan yang berkelanjutan dan keputusan negara tersebut untuk melonggarkan pembatasan bagi sebagian wisatawan yang masuk diharapkan akan meningkatkan permintaan secara keseluruhan dan menguntungkan segmen perhotelan, sambil memfasilitasi kesepakatan yang melibatkan investor luar negeri.