Jakarta, Properti Indonesia – Kekayaan pengusaha-pengusaha properti di China menurun drastis. Hal tersebut karena kampanye yang dilakukan oleh pemerintah untuk meluncurkan reformasi properti nasional. Kekayaan kolektif dari para pendiri properti terbesar di negara itu menyusut sebesar USD30 miliar atau Rp430,6 triliun berdasarkan Daftar Miliarder Dunia versi Forbes.
Dilansir dari Forbes, Kamis (27/1), Presiden China Xi Jinping mengharapkan pasar properti yang relatif tenang, di mana pengembang membangun perumahan dengan harga yang lebih terjangkau. Karena itu, dirinya membatasi pinjaman berlebih di sektor ini.
Selain itu, terdapat kebijakan menghentikan kenaikan harga real estat yang meroket sehingga membebani keuangan rumah tangga. Di antaranya tidak bisa membelanjakan uang untuk bidang-bidang seperti biaya untuk anak, dan memperburuk kesenjangan kekayaan yang semakin luas.
Salah satu taipan properti di China yakni pemilik perusahaan properti Evergrande, Hui Ka Yan, mengalami penurunan kekayaan. Hui kehilangan sebanyak 80 persen dari kekayaannya yang dulu senilai USD42,5 miliar pada tahun 2017. Bahkan perusahaannya saat ini tengah berjuang untuk membayar utang lebih dari USD300 miliar. Tercatat harta milik Hui Ka Yan saat ini hanya USD9,1 miliar saja.
Hal ini berawal dari didorong keyakinan bahwa harga perumahan akan terus naik, dan pendapatan yang diperoleh akan selalu melebihi biaya. Evergrande telah meminjam uang dari karyawan, investor ritel, dan berbagai lembaga keuangan termasuk bank dan perusahaan perwalian untuk memperoleh lahan tanah dan membangun apartemen. Namun, setelah dana mengering dan harga rumah menurun, Evergrande mengalami bangkrut.