Jakarta, Properti Indonesia – Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings telah merevisi outlook peringkat jangka panjang PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) ke negatif ke stabil. Mengutip dari laman fitchratings.com, Senin (13/6), Fitch Ratings juga telah mengafirmasi peringkat atas obligasi tanpa jaminan senilai USD300 juta yang jatuh tempo pada 2023 di B-, dengan recovery rating ‘RR4’.
Obligasi tersebut diterbitkan oleh anak perusahaan KIJA, Jababeka International B.V, dan dijamin oleh KIJA dan beberpa anak perusahaan yang operasional. Peringkat Nasional Jangka Panjang KIJA juga menurun ke ‘BB+(idn)’ dari ‘BBB-(idn)’. Outlook negatif merefleksikan ketidakpastian yang meningkat atas kemampuan Jababeka untuk membiayai kembali obligasi tanpa jaminannya senilai USD300 juta yang jatuh tempo pada 5 Oktober 2023.
“Kondisi pasar modal telah memburuk secara signigfikan dalam beberapa bulan terakhir karena inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga yang melemahkan prospek pertumbuhan global. Meskipun pembatasan Covid-19 di Indonesia yang diperlonggar akan membuat arus kas KIJA stabil, likuiditas perusahaan dapat tertekan jika kondisi pasar modal tetap tidak mendukung,” jelas Fitch.
Fitch memperkirakan perusahaan mampu mempertahankan arus kas stabil dari sumber-sumber nonpengembangannya, yang mengimbangi penjualan properti industri yang cyclical. Adapun arus ias nonpengembangan berasal dari jasa manajemen kawasan industri utama, troughput dry port, dan listrik yang dijual di bawah perjanjian kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang berlaku hingga 2032.
“Arus kas ini akan terus menutupi biaya bunga KIJA di sekitar 0,8x-0,9x berdasarkan estimasi kami, setelah memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi,” imbuh Fitch.
Fitch Ratings uga memperkirakan prapenjualan KIJA naik sebesar 14 persen di 2022 dari 46 persen di 2021, yang didukung oleh penjualan lahan industri. Kawasan Industri Kendal juga akan mencapai Rp1,1 triliun di 2022, penjualan lahan industri akan terus menjadi mayoritas dari prapenjualan KIJA dalam dua tahun mendatang.
Sementara itu, prapenjualan residensial dan komersial diperkirakan membaik ke Rp383 miliar tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp276 miliar. Perusahaan membukukan prapenjualan residensial dan komersial di kuartal I 2022 sebesar Rp110 miliar, didukung oleh permintaan atas rumah tapak di bawah Rp1 miliar.