Didominasi E-Commerce dan FMCG, Perkantoran Non-CBD Mulai Tunjukkan Peningkatan Sewa

Didominasi E-Commerce dan FMCG, Perkantoran Non-CBD Mulai Tunjukkan Peningkatan Sewa
Ruang kantor (Freepik)

Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Savills International Indonesia menyebutkan bahwa pasar perkantoran di kawasan non-Central Business District (CBD) Jakarta mulai terlihat adanya peningkatan aktivitas sewa kantor selama enam bulan terakhir. 

Ada dua proyek baru, yakni Ciputra International Puri Tower 2 (Jakarta Barat) dan Pondok Indah Tower 5 (Jakarta Selatan) yang telah selesai dibangun dan mulai beroperasi pada semester pertama tahun 2021. Kedua proyek tersebut menambah total pasokan baru sekitar 71.000 m2 ke pasar perkantoran non-CBD. Dengan demikian, total stok yang ada meningkat menjadi sekitar 3,19 juta m2.

Dari total persediaan di area non-CBD, pasokan kantor Grade B mendominasi pasar sekitar 60%, diikuti Grade C sekitar 27% dan Grade A sekitar 13%. Berdasarkan wilayah, Jakarta Selatan menyumbang lebih dari 50% inventaris kantor di kawasan non-CBD.

Savills menyebutkan, perusahaan e-commerce dan FMCG merupakan kontribusi tertinggi permintaan di pasar non-CBD, sementara permintaan dari sektor lain tetap rendah karena permintaan ekspansi yang terbatas selama pandemi.

“Seiring dengan pemulihan sentimen bisnis secara bertahap, aktivitas sewa kantor membaik. Perusahaan e-commerce dan FMCG adalah yang paling aktif, sementara permintaan dari sektor lain tetap rendah karena ekspansi ang terbatas selama pandemi,” kata Director Research Consulatncy Savills Indonesia, Anton Sitorus dalam siaran persnya yang dikutip, Jumat (3/9).

Lanjut Anton, gedung-gedung baru khususnya di kawasan Jakarta Selatan seperti TB Simatupang terus menarik penyewa untuk berekspansi dan relokasi, yang telah membantu menghasilkan permintaan bersih selama enam bulan pertama.

Pada paruh pertama tahun 2021, penyerapan ruang bersih di kawaan non-CBD mencapai sekitar 43.000 m2 tidak jauh berbeda dengan tahun 2020. Jakarta Selatan dan Jakarta Barat berkontribusi sebesar 80% dari penyerapan bersih di periode ini, sementara tiga area lainnya menyumbang sekitar 20%.

Pertumbuhan permintaan pada semester I-2021 dinilai membantu menjaga kekosongan tetap stabil. Saat ini, tingkat kekosongan sekitar 27,5% atau sekitar 877.000 ruang kantor tersedia untuk disewakan.

Kemudian untuk harga sewa perkantoran di non-CBD selama semester I-2021 rata-rata sekitar Rp118.300 per m2 per bulan. Area TB Simatupang tetap menjadi lokasi termahal dengan harga sewa rata-rata Rp145.000 per m2 per bulan. Sementara di Jakarta Timur mencatat jumlah penyesuaian baru terendah, harga sewa naik sedikit menjadi Rp88.500 per m2 per bulan.

Savills mempredksi antara tahun 2021 dan 2023, pasar perkantoran di kawasan non-CBD akan menerima pasokan sekitar 367.000 m2. Sekitar 94.000 m2 akan memasuki pasar kedua tahun ini, sementara 282.000 m2 akan selesai tahun 2022.

“Permintaan kanor diharapkan meningkat secara bertahap mengikuti hasil positif yang terlihat pada paruh pertama tahun ini. Kemungkinan besar didorong oleh perusahaan e-commerce, teknologi, dan farmasi yang ingin mendirikan perusahaan,” imbuh Anton.

Adapun prediksi lainnya tingkat kekosongan non-CBD akan sedikit meningkat sekitar 28% pada akhir tahun 2021 dan kembali stabil di tahun 2022, sebelum kembali menjadi 26% pada tahun 2023. TB Simatupang akan lebih banyak perkembangan kantor baru dibandingkan daerah lain di kawasan non-CBD.

Sewa non-CBD juga diperkirakan akan terus menurun hingga tahun depan di tengah sedikit peningkatan kekosongan. Sewa diproyeksikan akan pulih bertahap dari tahun 2023 dan seterusnya seiring dengan pertumbuhan pasar hunian.

Tags
#Perkantoran #Berita Properti #properti #savills