Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan jasa real estat global Cushman & Wakefield dalam laporan terbarunya menyebutkan jika pusat-pusat manufaktur terbesar di Asia Pasifik telah pulih dikarenakan berbagai aktivitas perekonomian yang telah dibuka kembali sehingga mendorong permintaan untuk produk-produk utama.
Head of Insight & Analysis, Asia Pacific di Cushman & Wakefield, Dr. Dominic Brown mengatakan, bahwa seiring dengan mulai terkendalinya penyebaran virus Covid-19, permintaan di pusat-pusat manufaktur mengalami peningkatan.
“China berhasil mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pabrikan Amerika Serikat dan Eropa, yang terkena imbas lockdown, dan menangkap pangsa ekspor global yang lebih besar dari sekitar 13% pada 2019 menjadi 15% pada 2020. Lebih jauh lagi, ekspor dari China pada kuartal I-2021 sekitar 27% lebih tinggi dari kuartal II-2029, atau setara dengan USD 150 miliar,” jelas Dominic yang dikutip pada Rabu (24/8).
Selain China, sebut Dominic, Korea Selatanga ju diuntungkan dari melonjaknya nilai semikonduktor, kenaikan ini berasal dari permintaan yang kuat dan kekurangan produk secara global terhadap manufaktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang naik 16,8% per tahunnya pada Januari 2021. Akan tetapi, produsen pakaian jadi di seluruh wilayah Asia Pasifik masih terus berjuang karena rendahnya tingkat permintaan yang mempengaruhi pasar seperti India dan Indonesia.
“Meskipun permintaan dari sektor manufaktur relatif lemah, kami melihat ada 2 permintaan uatama untuk properti industri dari sektor logistik dan data center. Pengembang dan investor Data Center sebagian besar mencari kawasan industri, karena infrastruktur pendukung yang lebih andal, sedangkan sektro logistik mencari kawasan industri untuk hub distribusi maupun kawasan non industri untuk pengiriman titik terakhir,” kata Wira Agus, selaku Director, Industrial and Land Sales, Cushman & Wakefield Indonesia.
Head of Investor Services, APAC, Cushman & Wakefield, Dennis Yeo juga menambahkan di masa depan pasca Covid-10 kemungkinan akan lebih bergantung pada teknologi serta alat canggih yang memfasilitasi industri 4.0, karena perusahaan berusaha untuk tetap bertahan. Memastikan diversifikasi yang lebih luas dengan pabrik manufaktur yang lebih kecil dan terdistribusi secara geografis di lokasi yang lebih tahan menghadapi gangguan.
Dengan perkembangan ini, pengembang properti ditantang untuk tetap menjadi yang terdepan, membentuk fasilitas yang akan dirancang dan dioperasikan sesuai dengan perluasan e-commerce serta mengadopsi pendekatan yang lebih holistik terhadap pertimbangan ESG untuk mengakomodasi berkembangnya pengguna real estat yang sadar lingkungan.