Ciputra Golfpreneur Tournament, Warisan Sang Visioner yang Mengalir di Setiap Fairway

Ciputra Golfpreneur Tournament, Warisan Sang Visioner yang Mengalir di Setiap Fairway
Damai Indah Golf (damaiindahgolf.com)

Tangerang Selatan, Properti Indonesia – Kabut pagi masih menyelimuti fairway hole ke-9, ketika seorang pegolf muda mengayunkan stiknya, di lapangan Damai Indah Golf BSD Course, Serpong, awal Agustus lalu. Pukulan demi pukulan yang dilayangkan merupakan bagian dari persiapan intensif jelang digelarnya ajang Ciputra Golfpreneur Tournament (CGT), yang akan kembali berlangsung di Damai Indah Golf BSD Course pada 20 - 23 Agustus 2025 mendatang. 

Di edisi ke-10 ini, turnamen yang digagas almarhum DR. (HC) Ir. Ciputra itu bukan hanya merayakan sejarah, tetapi juga membuktikan bahwa warisannya masih hidup dalam setiap pukulan, setiap strategi, dan setiap mimpi yang lahir dari lapangan hijau.

Damai Indah Golf BSD Course adalah mahakarya Jack Nicklaus yang pertama di Indonesia. Setiap hole-nya ibarat puisi yang ditulis dengan rumput, bunker, dan danau. Sejatinya, Damai Indah Golf BSD Course bukan sekadar lapangan golf. Ia adalah monumen kegigihan seorang Budiarsa Sastrawinata, sosok kunci yang mewujudkan mimpi Ciputra untuk membangun pusat golf dunia di tanah air. Kini, lapangan rancangan Jack Nicklaus itu berdiri megah, tetapi sedikit yang tahu kisah heroik di baliknya.

Bila ditilik ke belakang, yaitu media akhir 1980-an, BSD hanyalah hamparan tanah yang dianggap "terlalu jauh" dari Jakarta. Kala itu, jalan tol Jakarta-Tangerang masih menjadi mimpi, dan gagasan membangun kota mandiri di sana dianggap nekat. Tapi Budiarsa punya strategi saat itu. "Kita harus bangun lapangan golf dulu, baru orang akan tertarik ke BSD," kenang Budiarsa Sastrawinata saat itu mengulang visi Ciputra, yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur Damai Indah Golf.

Ceritanya, sekitar tahun 1987, Ciputra mengirim surat kepada Jack Nicklaus. Namun, sang legenda golf itu menolak. Lokasi BSD dinilainya terlalu terpencil. Tapi Budiarsa muda kala itu bukanlah pribadi yang mudah menyerah. Dengan membawa setumpuk dokumen perencanaan BSD dari konsultan Jepang, ia terbang ke Palm Beach, Amerika Serikat, tanpa janji temu. Dua hari ia terus menunggu. Namun baru di hari ketiga, kesabaran itu terbayar. "Saya takkan lupa ekspresi Jack saat melihat dokumen itu," kenang Budiarsa, suatu waktu.

Seiring waktu, pembangunan lapangan golf ternyata menjadi magnet. BSD perlahan bertransformasi dari tanah kosong menjadi kota mandiri. "Orang datang untuk golf, tapi tinggal karena melihat potensi BSD," ujar Budiarsa.

Lapangan 72 par sepanjang 6.545 meter itu resmi dibuka pada 1992. Jack Nicklaus menyematkan "Spirit of the Hills" sebuah desain yang memadukan tantangan teknis dengan keindahan lanskap tropis. Hole ke-18 yang menghadap Sungai Cisadane menjadi mahakarya dan kelak bertahun-tahun kemudian menjadi saksi bisu kemenangan Tom Kim di CGT 2019.

Kembali ke CGT, pada tahun 2014, turnamen ini lahir dengan hadiah USD100.000. Saat itu, hanya segelintir orang yang percaya bahwa CGT akan mencapai tahun ke sepuluh. Tapi Ciputra bukanlah sosok yang peragu. Baginya, golf adalah ekstensi dari entrepreneurship yang membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kemampuan membaca peluang.

Tahun ini, hole ke-18 yang biasanya par 5 diubah menjadi par 4, sebuah tantangan baru yang seolah menjadi metafora perjalanan golf Indonesia, semakin dekat ke lubang, semakin berat ujiannya.  "Di sini, pegolf belajar bahwa golf bukan hanya soal teknik, tapi juga kesabaran dan visi, persis seperti yang selalu dipegang Pak Ciputra,"  ujar Budiarsa Sastrawinata, Presiden Direktur Damai Indah Golf.

James Byrne, pegolf Skotlandia, menjadi jawara di tahun pertama. Kemenangannya seperti pembuka pintu bagi nama-nama internasional lainnya. Sekedar menyebut; Michael Tran (Vietnam, 2015), Oscar Zetterwall (Swedia, 2016), hingga Tom Kim (Korea Selatan, 2019) yang kini bersinar di PGA Tour. Bagi mereka tentu saja CGT adalah batu loncatan.

Yang menarik, ketika pandemi sempat menghentikan banyak turnamen, nyatanya kebijakan itu tidak berlaku bagi CGT yang tetap bertahan. Hadiahnya bahkan naik bertahap mulai dari USD110.000, USD125.000, hingga USD140.000. Setiap kenaikan adalah simbol komitmen dari penyelenggaranya.

Jonathan Wijono, pegolf Indonesia yang tahun lalu finis di ties-9, bercerita tentang tekanan dan kebanggaan bermain di rumah sendiri. Hal yang sama juga turut dirasakan Jonathan Xavier Hartono yang harus puas berada di posisi ties 14.  Prestasi Jonathan dan Jonathan Xavier Hartono (ties-14) mungkin belum menjadi kemenangan, tapi mereka adalah bukti bahwa bibit-bibit itu ada. Dan seperti kata Budiarsa, "Mimpi Pak Ciputra bukanlah lomba sprint, tapi marathon." Tahun ini, CGT mencatat dua sejarah yaitu hadiah USD150.000 dan status sebagai pembuka Asian Development Tour di Indonesia.

General Manager Asian Development Tour, Ken Kudo, menyebut turnamen ini sebagai "role model" bagi yang lain.  “Rasanya sangatlah pantas jika Ciputra Golfpreneur Tournament menjadi ajang pertama kami di Indonesia pada musim ini, mengingat turnamen ini telah menjadi bagian dalam kalender kompetisi kami selama lebih dari satu dasawarsa. Apalagi turnamen ini juga telah memainkan peranan yang penting dalam sejarah Asian Development Tour,” sebut Kudo.

Warisan yang Tak Pernah Padam
Sore itu, matahari mulai tenggelam di atas hole ke-18. Bayangan panjang pohon palem menari di atas hijaunya lapangan yang mulai memerah karena pantulan surya. Di balik tetesan peluh para atlet yang berlatih  hari itu, ada sesuatu yang lebih abadi yaitu warisan Ciputra melalui Ciputra Golfpreneur Tournament.

Semula, ajang ini mungkin hanya dimulai sebagai sebuah event, tapi sepuluh tahun telah mengubahnya menjadi sebuah ekosistem. Dari James Byrne hingga Jonathan Wijono, dari USD100.000 hingga USD150.000, dari lapangan biasa hingga lapangan legenda, setiap elemen bercerita tentang visi yang tak pernah pudar.

Seperti fairway yang tak pernah benar-benar lurus, perjalanan golf Indonesia memang masih cukup panjang. Tapi selama masih ada atlet-atlet muda yang bermimpi, dan turnamen seperti CGT yang memberi panggung, maka warisan Ciputra akan terus mengalir, seperti sungai Cisadane yang membelah Damai Indah Golf, mengairi setiap akar, setiap daun, dan setiap mimpi yang tumbuh di atasnya.**

Tags
#Ciputra Group #GOLF #Ciputra Golfpreneur Foundation #Ciputra Golfpreneur Tournament #Damai Indah Golf BSD Course #Damai Indah Golf