Jakarta, Properti Indonesia – Sektor perhotelan di Bali untuk tahun 2021 diprediksi masih belum membaik akibat terdampak dari pandemi. Terlebih, sektor ini sangat mengandalkan kunjungan dari wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke tempat wisata.
Colliers International Indonesia mencatat, tingkat okupansi hotel di Bali sepanjang kuartal I 2021 menurun hingga di bawah 20%, sementara di tahun lalu okupansi berada di sekitar 25%.
Hal ini bisa dibilang berbanding terbalik dengan sektor perhotelan di wilayah Jakarta yang kemungkinan akan mengalami kenaikan saat lebaran. Sementara Bali cukup sulit karena adanya larangan mudik dan sebagian besar lokasi pariwisata masih ditutup untuk menghindari kenaikan kasus pandemi, sehingga masih menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis hotel di Bali.
Baca Juga : Senjakala Bisnis Hotel di Masa Pandemi
“Kalau kita lihat di bulan Januari tidak dapat momentum apa-apa, sehingga Januari-Februari tetap rendah kunjungannya,” ujar Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto dalam paparan virtual, Selasa (6/4) lalu.
Menurutnya, tingkat keterisian kamar yang rendah ini pada akhirnya membuat banyak perusahaan hotel memilih menurunkan tarif atau memberi diskon. “Mudah-mudahan pada kuartal III dan kuartal IV ada pergerakan yang cukup lumayan untuk mendukung hotel-hotel yang ada di Bali,” imbuh Ferry.
Menurut catatan Colliers, pada tahun 2021 akan ada sejmlah hotel, khususnya hotel bintang lima yang akan beroperasi di Bali, diantaranya Jumeirah (Jimbaran), Andaz Bali Hotel (Sanur), Krimpton Resort Nusa Dua (Nusa Dua), dan JW Marriot Uluwatu (Uluwatu).