Jakarta, Properti Indonesia - Kinerja sektor perhotelan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup positif dan signifikan sejak awal tahun 2022, khususnya paska diumumkannya pelonggaran pandemi Covid 19.
Berdasarkan riset yang dilakukan tim Hospitality Services Colliers Indonesia, hotel menjadi salah satu bisnis yang menunjukkan pemulihan yang relatif cepat. Kinerja hotel di Jakarta, Surabaya, dan Bali menunjukkan prospek positif di kuartal IV 2023.
Lonjakan aktivitas offline sejak kuartal ketiga 2023 telah merevitalisasi hotel, menarik pasar pemerintah dan korporasi. Meski terdapat sedikit penurunan pada kuartal keempat, terutama pada pertengahan Desember seiring dengan memasuki musim liburan.
Okupansi hotel di Surabaya diperkirakan terus meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas dunia usaha. Begitu pula di Bali seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Mengingat potensi positif dan prospek di sektor hotel pada tahun 2024, ada juga prospek positif untuk berbagai sektor lain di industri hospitality," ujar Satria Wei, Head of Hospitality Services dalam siaran pers, Jumat (15/3).
Lanjut Satria, terdapat beberapa sektor pada industri hospitality yang akan mengalami pertumbuhan di tahun ini. Pertama, hotel bisnis yang telah mengalami peningkatan sekitar 6% - 8% dari tahun 2023. Kinerja yang positif pada hotel bisnis di tahun 2024 didorong dengan adanya berbagai kegiatan MICE, yang didominasi baik oleh sektor swasta maupun pemerintah.
Kemudian hotel resor, yang mengalami perkembangan pada tahun 2024 jika dibandingkan dengan tahun 2023. Bagi pemilik hotel atau investor, aspek yang terpenting bagi hotel adalah memiliki indentitas dan konsep yang jelas.
"Oleh sebab itu, tren transisi dari hotel tanpa merek menjadi hotel dengan merek pada hotel resor juga merupakan salah satu langkah strategis yang membutuhkan pertimbangan dan eksekusi yang tepat. Selain itu, tren liburan keluarga diproyeksikan akan bertahan dan terus berkembang. Sehingga jumlah permintaan kamar dengan tipe keluarga diantisipasi meningkat pada tahun 2024," jelas Satria.
Permintaan industri hiburan sepertu spa, tempat hiburan kesehatan, klub olahraga, dan tempat hiburan olahraga juga mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah outlet yang beroperasi di Indonesia pada tahun 2024 bila dibandingkan dengan 2023.
Berdasarkan hasil pengamatan, untuk bisnis Spa atau tampat hiburan kesehatan di tahun 2024, berfokus pada lokasi destinasi wisata seperti Candi Borobudur, Labuan Bajo, Danau Toba, dan Bali. Sedangkan untuk tempat hiburan olahraga, lebih ditekankan pada kota bisnis seperti Surabaya, Makassar, dan Medan.
Selanjutnya, bisnis makanan dan minuman yang sudah memiliki reputasi dinilai dapat lebih bertahan bila dibandingkan dengan yang tidak. Dari segi tingkat kesadaran, dan mencapai masyarakat juga lebih mudah.
"Mengingat sifat masyarakat Indonesia yang memiliki rasa ingin tahu dan mencoba yang cukup tinggi. Kami melihat adanya peningkatan prevalensi merek F&B asing yang masuk ke Indonesia," ungkap Satria.
Terakhir, kepopuleran olahraga individual golf juga mulai meningkat pada kalangan komunitas Indonesia pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 terjadi. Golf, dahulu diasosiasikan dengan kalangan elit dan generasi yang lebih tua, kini berubah menjadi sebuah kegemaran baru pada kalangan generasi muda. Pergeseran ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan atas pertumbuhan bisnis tersebut sampai dengan tahun 2023.
"Salah satu peluang untuk meningkatkan pendapatan dalam bisnis ini adalah melalui kolaborasi dengan bisnis lain seperti outlet F&B, hotel, atau real estat. Hal ini dikarenakan adanya permintaan terhadap jenis hiburan yang disesuaikan dengan target pasar yang ada," tutup Satria.