Colliers: Pasar Properti Global akan Stabil di 2023

Colliers: Pasar Properti Global akan Stabil di 2023
Ilustrasi properti (freepik)

Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan manajemen investasi dan layanan profesional Colliers telah merilis laporan Global Investor Outlook 2022, yang menemukan bahwa stabilisasi pasar properti global akan terjadi di pertengahan tahun 2023. 

 Terlepas dari ketegangan geopolitik, guncangan ekonomi, dan kebijakan moneter yang tidak merata selama setahun terakhir, negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat telah menyaksikan pengaturan ulang harga yang cepat, namun hal ini tidak berlaku secara universal. Oleh karena itu, investor dapat mengharapkan perbedaan yang signifikan dalam bagaimana pengaturan ulang dilakukan di seluruh sektor dan pasar pada tahun depan.

Colliers menyebutkan bahwa Inflasi dan naiknya suku bunga saat ini telah memicu peningkatan biaya operasional dan konstruksi, yang diperburuk oleh masalah rantai pasokan dan energi. Investor di Asia Pasifik menyebutkan suku bunga (88%), peningkatan biaya konstruksi (87%), dan biaya operasional aset yang tinggi (77%) sebagai tantangan makro utama bagi mereka untuk tahun depan. Secara global, suku bunga menjadi perhatian utama (88%), diikuti inflasi (74%), dan gangguan rantai pasokan (68%).

 “Indonesia juga menghadapi kenaikan suku bunga oleh bank sentral serta biaya konstruksi yang lebih tinggi dengan tingkat kekhawatiran yang meningkat tentang resesi global. Namun, bahkan dengan beberapa berita PHK baru-baru ini, Indonesia memiliki inflasi yang lebih rendah, kenaikan suku bunga yang lebih rendah dan devaluasi mata uang yang lebih sedikit dibadingkan dengan pasar seperti Amerika Serikat dan Eropa,” ujar Colliers Indonesia, Head of Capital Markets & Investment Services, Steve Atherton.      

Lanjut Steve, untuk pasar perkantoran dan apartemen masih mengalami kesulitan selama dua hingga tiga tahun terakhir, terlebih saat pandemi Covid-19 meluas. Pandemi menciptakan dislokasi di pasar properti lokal, terutama pada hotel dan ritel.

“Alih-alih mengoreksi harga aset untuk mencerminkan berkurangnya permintaan, tarif sewa yang lebih rendah dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, sebagian besar pemilik di Indonesia mencoba mempertahankan aset mereka dan menunggu kondisi kembali seperti semula,” imbuhnya.

Colliers Indonesia melihat bahwa banyak pengembang dan investor memfokuskan kembali upaya pembangunan mereka untuk sektor perumahan atau berekspansi ke kelas aset baru seperti logistik dan pusat data. Sebagian besar pengembangan bangunan vertikal skala besar ditunda peluncurannya sampai ada bukti permintaan nyata dan beberapa pengurangan dalam lingkungan kenaikan suku bunga dan biaya konstruksi.

Meski begitu, secara global, Asia Pasifik merupakan kawasan yang paling optimis terhadap pertumbuhan ekonomi. Lebih dari separuh investor Asia Pasifik atau sekitar 53 persen mengharapkan dampak positif sebagai hasil dari pertumbuhan wilayahnya sendiri.

“Diharapkan kawasan Asia Pasifik akan mengungguli semua pasar lainnya pada tahun 2023. 12 bulan ke depan masih akan berat, terutama untuk pasar inti seperti Australia, Hong Kong, Korea, dan Singapura. Investasi di Asia juga sedikit lebih terlindungi dari lingkungan inflasi dan suku bunga saat ini,” jelas Chris Pilgrim, Director of Global Capital Markets Colliers.

Tags
#Berita Properti #properti #colliers international #colliers indonesia